christ
opo anane wae
Jan 19, 2010
Jan 7, 2009
Keranjang Investasi 2009
Lha kok ngitung keranjang ?
Lha hidup lak perlu direncanakan to ... ?
Sithik-sithik dikumpulke, ben iso nduwe passive income jarene ..
Mari berhitung ... dan segera menanam investasi utk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
menanam telo ? cabe ?
atau bikin kios ?
beli ruko ? rumah ?
hm ... semuanya perlu dihitung ...
Dec 20, 2008
memilih
karena saya sedang memilih baju yang akan saya bawa pulang.
2 minggu cuti euy ...
memilih, berarti membawa sesuatu yang dipilih & meninggalkan sesuatu yang tidak dipilih,
pada saat ini, pada saat 2 minggu ke depan.
sesuatu yang tidak terpilih pada saat ini, bukan berarti akan tidak dipilih 2 minggu nanti.
so, hidup ini soal memilih.
jangan berkecil hati, jika anda tidak dipilih saat ini
tidak dipilih bukan berarti tidak akan dipilih.
berpikirlah seperti baju-baju saya itu, yang diam namun sabar,
menunggu sang pemilih untuk membawanya serta,
suatu saat nanti.
Aug 31, 2008
Katekismus Gereja Katolik
BERKENAAN DENGAN PELUNCURAN
"KATEKISMUS GEREJA KATOLIK"
YANG DISUSUN SEHUBUNGAN DENGAN KONSILI VATIKAN II
YOHANES PAULUS II, USKUPPelayan para pelayan Allahsebagai kenangan tetap
Kepada Saudara-saudara terhormat para Kardinal, Uskup Agung dan Uskup, imam dan diaken, dan semua anggota umat Allah.
1. Pengantar
Tuhan telah mempercayakan kepada Gereja-Nya tugas untuk memelihara harta pusaka iman, dan Gereja memenuhi tugas ini pada segala zaman. Konsili Vatikan II, yang dibuka tiga puluh tahun silam oleh pendahulu saya almarhum Yohanes XXIII, mempunyai tujuan dan keinginan menjelaskan perutusan apostolik dan pastoral Gereja, menjadikan kebenaran Injil bersinar dan dengan demikian membimbing semua manusia supaya mencari dan menerima cinta Kristus yang melampaui segala pengetahuan (bdk. Ef 3:19).
Paus Yohanes XXIII memberikan kepada konsili tugas pokok supaya dengan lebih baik memelihara dan menjelaskan harta tidak ternilai ajaran Kristen, agar umat beriman Kristen dan semua manusia yang berkehendak baik dengan lebih mudah dapat memahaminya. Karena itu, pada tempat pertama konsili tidak perlu mengecam kekeliruan zaman itu, tetapi harus berusaha dengan tenang terutama untuk mengusahakan satu uraian yang jelas mengenai kekuatan dan keindahan ajaran iman. Paus berkata pada waktu itu: "Disinari oleh terang konsili ini, Gereja akan bertumbuh dengan kekayaan rohani yang baru, akan mendapat kekuatan dan daya baru dan akan memandang ke depan tanpa perasaan takut. Kita wajib untuk dengan rela dan tanpa takut mengabdikan diri kepada tugas ini yang dituntut oleh zaman kita, dan dengan demikian melanjutkan perjalanan yang telah ditempuh oleh Gereja sejak hampir dua puluh abad" [1].
Dengan bantuan Allah bapa-bapa konsili dalam karya yang memakan waktu empat tahun dapat menyusun sejumlah besar ajaran dan petunjuk pastoral untuk seluruh Gereja. Para gembala dan umat dapat menemukan di dalamnya petunjuk untuk "pembaharuan berpikir, bertindak, susila dan kekuatan moral, kegembiraan dan harapan, seturut tujuan konsili itu" [2].
Sesudah ditutup, konsili tidak berhenti menggerakkan kehidupan Gereja. Dalam tahun 1985 saya dapat mengatakan: "Bagi saya, yang mendapat rahmat yang begitu khusus untuk mengambil bagian pada konsili dan dapat ikut serta secara aktif sampai selesainya, Konsili Vatikan II selalu dan terutama dalam tahun-tahun Pontifikat saya adalah tolok ukur tetap untuk seluruh karya pastoral saya, dan saya telah berupaya dengan sadar, menerapkan petunjuk-petunjuknya secara konkret dan tepat pada tiap Gereja lokal dan pada Gereja seluruhnya. Tanpa henti-hentinya kita harus kembali kepada sumber ini" [3].
Dalam semangat ini telah saya undang pada tanggal 25 Januari 1985 satu sinode luar biasa para Uskup dalam kaitan dengan hari ulang tahun kedua puluh berakhirnya konsili. Tujuan sinode itu ialah menilai rahmat dan buah-buah rohani dari Konsili Vatikan II dan mendalami ajarannya supaya kita dapat mengikutinya dengan lebih baik lagi, demikian pula memajukan pengetahuan tentangnya dan pelaksanaannya lebih lanjut.
Pada kesempatan ini bapa-bapa sinode menegaskan: "Disepakati bersama agar disusun satu katekismus atau dengan lebih tepat satu kompendium mengenai seluruh ajaran iman dan susila Katolik, boleh dikatakan sebagai acuan untuk katekismus atau kompendium yang harus disusun di berbagai wilayah. Penjelasannya harus bersifat biblis dan liturgis, harus menyajikan ajaran yang benar dan serentak disesuaikan dengan kehidupan hari ini" [4]. Sesudah menutup sinode itu saya mengambil alih keinginan ini karena menurut pendapat saya, ini "sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan nyata Gereja universal dan Gereja-gereja lokal" [5].
Sungguh sepatutnya kita bersyukur dengan segenap hati kepada Tuhan pada hari ini karena di bawah judul "Katekismus Gereja Katolik", kami dapat mempersembahkan kepada seluruh Gereja satu teks acuan untuk katekese yang diperbaharui dari sumber-sumber iman yang hidup.
Sesudah pembaharuan liturgi dan revisi kodeks hukum kanonik Gereja Latin dan norma-norma Gereja Katolik Timur, katekismus ini akan menggapai satu sumbangan penting bagi karya pembaharuan seluruh kehidupan Gereja seperti yang dikehendaki dan dimulai oleh Konsili Vatikan II.
2. Jadinya Teks dan Pokok-pokok Pemikirannya
"Katekismus Gereja Katolik" adalah hasil dari suatu kerja sama yang sangat luas jangkauannya: ia dihasilkan dalam waktu enam tahun kerja yang intensif dalam jiwa keterbukaan yang saksama dan semangat yang terdedikasi.
Dalam tahun 1986 saya memberikan tugas kepada satu komisi yang terdiri dari dua belas Kardinal dan Uskup di bawah pimpinan Bapa Kardinal Yosef Ratzinger, supaya mempersiapkan satu rancangan untuk katekismus seperti yang dikehendaki oleh bapa-bapa sinode. Selanjutnya satu tim redaksi yang terdiri dari tujuh Uskup diosesan, demikian pula Para ahli dalam bidang teologi dan katekese membantu komisi ini dalam pekerjaannya.
Komisi itu bertugas, memberi petunjuk dan mengawasi jalannya pekerjaan. Ia menyertai semua langkah redaksi dalam sembilan tahap perumusan berturut-turut dengan penuh perhatian. Pihak tim redaksi telah menerima tanggung jawab untuk menuliskan teks dan memasukkan perubahan-perubahan yang dituntut oleh komisi, serta menilai tanggapan dari sejumlah besar teolog, ekseget dan kateket dan terutama dari Para Uskup seluruh dunia, untuk memperbaiki teks. Tim redaksi itu merupakan satu wadah pertukaran pikiran yang produktif dan memperkaya guna menjamin kesatuan dan keseragaman teks.
Rancangan itu lalu dibicarakan secara luas oleh semua Uskup Katolik, oleh konferensi-konferensi para Uskup atau sinode mereka, selanjutnya oleh lembaga-lembaga di bidang teologi dan katekese. Secara keseluruhan ia mendapat sambutan yang baik dari episkopat, dan dengan alasan kilat orang dapat mengatakan bahwa katekismus ini merupakan hasil kerja sama episkopat Gereja Katolik yang dengan rela telah menerima himbauan saya, dan memikul sahamnya sendiri pada tanggung jawab dalam suatu prakarsa yang begitu langsung menyangkut kehidupan Gereja. Jawaban ini menimbulkan dalam diri saya kegembiraan yang mendalam karena harmoni dari begitu banyak suara benar-benar melukiskan apa yang dapat dinamakan "simfoni" iman. Penerbitan katekismus ini memancarkan dengan demikian hakikat kolegial dari episkopat: ia memberikan kesaksian mengenai katolisitas Gereja.
3. Susunan Isi
Satu katekismus menggambarkan dengan setia dan secara organis ajaran dari Kitab Suci, dari tradisi yang hidup di dalam Gereja dan dari magisterium (wewenang mengajar) yang otentik, demikian juga warisan rohani dari bapa-bapa Gereja, para pria dan wanita kudus dalam Gereja, untuk memperkenalkan lebih baik misteri Kristen dan untuk menghidupkan kembali iman umat Allah. Ia harus memperhatikan perkembangan ajaran yang dalam peredaran waktu dicurahkan Roh Kudus kepada Gereja. Katekismus ini juga harus menjadi satu bantuan bagi orang Kristen supaya dengan terang iman dapat menyinari situasi dan masalah baru yang belum tampak di waktu yang silam.
Karena itu katekismus akan mencakup yang lama dan yang baru (bdk. Mat 13:52) karena iman itu tetap sama, namun serentak merupakan sumber sinar yang selalu baru.
Untuk menjawab keperluan ganda ini, maka "Katekismus Gereja Katolik" di satu pihak menggunakan susunan "lama" dan tradisional, yang sudah diikuti katekismus santo Pius V, dan membagi-bagi materi dalam empat bagian: syahadat; liturgi kudus, terutama Sakramen; kegiatan Kristen, yang dijelaskan dengan bertolak dari perintah-perintah; dan akhirnya doa Kristen. Tetapi serentak seluruh isi sering dipaparkan dalam bentuk "baru" untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan zaman kita.
Keempat bagian itu berhubungan satu dengan yang lain: Misteri Kristen adalah pokok iman (bagian pertama); misteri yang sama dirayakan dan diberikan dalam kegiatan liturgi (bagian kedua); misteri itu hadir, untuk menerangi dan menunjang anak-anak Allah dalam perbuatannya (bagian ketiga); misteri itu merupakan dasar untuk doa kita, yang ungkapan utamanya adalah "Bapa Kami", dan merupakan pokok permohonan kita, pujian kita dan syafaat kita (bagian keempat).
Liturgi itu sendiri adalah doa; karena itu, perayaan ibadat merupakan tempat yang cocok bagi pengakuan iman. Rahmat, buah Sakramen-sakramen, adalah prasyarat mutlak bagi perbuatan kita, demikian pula keikutsertaan kita dalam liturgi Gereja menuntut iman. Tetapi kalau iman tidak menampakkan diri dalam perbuatan, ia mati (bdk. Yak 2:14-16) dan tidak dapat menghasilkan buah untuk kehidupan kekal.
Waktu membaca "Katekismus Gereja Katolik" orang dapat menangkap kesatuan rahasia Allah yang mengagumkan, rencana keselamatan-Nya, demikian pula tempat sentral Yesus Kristus, Putera Allah yang tunggal, yang diutus oleh Bapa, yang oleh naungan Roh Kudus telah menjadi manusia dalam rahim Bunda Maria tersuci untuk menjadi Penebus kita. Setelah wafat dan bangkit, Ia selalu hadir dalam Gereja-Nya, terutama dalam Sakramen-sakramen. Ia adalah sumber iman, contoh kegiatan Kristen dan Guru doa kita.
4. Wibawa Teks
"Katekismus Gereja Katolik", yang saya sahkan pada tanggal 25 Juni 1992 dan yang penerbitannya saya tetapkan hari ini berdasarkan jabatan apostolik saya, adalah satu penjelasan iman Gereja dan ajaran Katolik seperti yang disaksikan dan diterangi oleh Kitab Suci, oleh tradisi apostolik dan oleh Wewenang Mengajar Gereja. Saya mengakuinya sebagai alat yang sah dan legitim dalam pelayanan persekutuan Gereja, selanjutnya sebagai norma yang pasti untuk ajaran iman. Semoga ia dapat melayani pembaharuan yang untuknya Roh Kudus tanpa henti-hentinya memanggil Gereja Allah, tubuh Kristus, penziarah di jalan menuju terang Kerajaan abadi.
Pengesahan dan penerbitan "Katekismus Gereja Katolik" merupakan satu pelayanan yang dapat diberikan pengganti Petrus kepada Gereja Katolik yang kudus dan kepada semua Gereja lokal, yang hidup dalam damai dan persekutuan dengan Takhta Apostolik Roma: yaitu pelayanan untuk menguatkan dan meneguhkan semua murid Tuhan Yesus di dalam iman (bdk. Luk 22:23), dan untuk mengukuhkan ikatan kesatuan dalam iman apostolik yang sama.
Karena itu, saya minta kepada para gembala dan umat beriman agar menerima katekismus ini dalam semangat persekutuan dan mempergunakannya secara cermat dalam memenuhi perutusannya, apabila mereka mewartakan Injil dan mengajak orang untuk hidup menurut Injil. Katekismus ini dipercayakan kepada mereka supaya dapat dipakai sebagai teks acuan yang sah dan otentik untuk penjelasan ajaran Katolik dan teristimewa untuk menyusun katekismus di wilayah-wilayah. Sekaligus ia ditawarkan kepada semua warga beriman yang ingin memperdalam pengetahuannya mengenai kekayaan keselamatan yang tidak habis-habis-nya (bdk. Yoh 8:32). Selanjutnya ia mau memberikan juga satu dukungan untuk upaya-upaya ekumenis, yang mencakup kerinduan kudus menuju kesatuan semua orang Kristen, kalau ia menunjukkan dengan cermat isi dan hubungan yang harmonis dari iman Katolik. Akhirnya "Katekismus Gereja Katolik" dipersembahkan kepada setiap manusia yang bertanya kepada kita mengenai dasar harapan kita (bdk. 1 Ptr 3:15) dan hendak mempelajari apa yang Gereja Katolik imani.
Katekismus ini tidak bertujuan untuk menggantikan katekismus wilayah yang sudah disahkan menurut peraturan oleh otoritas Gereja, oleh Uskup diosesan dan oleh konferensi para Uskup, terutama apabila mereka sudah mendapat pengesahan Takhta Apostolik. Ia bertujuan untuk menggairahkan penyusunan katekismus wilayah yang baru dan untuk membantu mereka yang memperhitungkan situasi dan kultur yang berbeda-beda, namun sekaligus dengan saksama memelihara kesatuan iman dan kesetiaan kepada ajaran Katolik.
5. Penutup
Pada akhir dokumen ini, yang memperkenalkan "Katekismus Gereja Katolik", saya mohon kepada Perawan Maria tersuci, bunda Sabda yang telah menjadi manusia dan bunda Gereja, supaya dengan doa yang berkuasa ia membantu pelayanan katekese dalam seluruh Gereja pada segala tingkat dalam zaman ini karena zaman kita ini dipanggil kepada satu upaya baru demi evangelisasi. Semoga terang iman yang benar dapat membebaskan umat manusia dari ketidakpahaman dan dari perhambaan dosa dan dengan demikian menghantarnya menuju kebebasan satu-satunya yang layak mendapat nama ini (bdk. Yoh 8:23): kebebasan kehidupan dalam Yesus Kristus di bawah bimbingan Rob. Kudus, di dunia ini dan di Kerajaan surga, dalam kepenuhan kebahagiaan pemandangan Allah dari muka ke muka (bdk. 1 Kor 13:12; 2 Kor 5:6-8).
Diberikan pada tanggal 11 Oktober 1992, pada hari ulang tahun ketiga puluh pembukaan Konsili Vatikan II, dalam tahun keempat belas pontifikat saya.
1 John XXIII, Discourse at the Opening of the Second Vatican Ecumenical Council, 11 October 1962: AAS 54 (1962), 788-91. 2 Paul VI, Discourse at the Closing of the Second Vatican Ecumenical Council, 7 December 1965: AAS 58 (1966), 7-8. 3 John Paul II, Discourse of 25 January 1985: L'Osservatore Romano, 27 January 1985. 4 Final Report of the Extraordinary Synod of Bishops, 7 December 1985: the Enchiridion Vaticanum vol. 9, II B a, n. 4:p. 1758, n. 1797. 5 John Paul II, Discourse at the of Closing of Extraordinary Synod of Bishops, 7 December 1985, n. 6: AAS 78 (1986), 435.
I. Kehidupan Manusia - Mengenal dan Mencintai Allah
1 Allah dalam Dirinya sendiri sempurna dan bahagia tanpa Batas. Berdasarkan keputusan-Nya yang dibuat Karena kebaikan semata-mata, Ia telah menciptakan manusia dengan kehendak bebas, supaya manusia itu dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya yang bahagia. Karena itu, pada setup saat dan di mana-mana Ia dekat dengan manusia. Ia memanggil manusia dan menolongnya untuk mencari-Nya, untuk mengenal-Nya, dan untuk mencintai-Nya dengan segala kekuatannya. Ia memanggil semua manusia yang sudah tercerai-berai satu dari yang lain oleh dosa ke dalam kesatuan keluarga-Nya, Gereja. Ia melakukan seluruh usaha itu dengan perantaraan Putera-Nya, yang telah Ia utus sebagai Penebus dan Juru Selamat, ketika genap waktunya. Dalam Dia dan oleh Dia Allah memanggil manusia supaya menjadi anak-anak-Nya dalam Roh Kudus, dan dengan demikian mewarisi kehidupan-Nya yang bahagia.
2 Supaya panggilan ini didengar di seluruh dunia, Kristus mengutus para Rasul yang telah dipilih-Nya dan memberi mereka tugas untuk mewartakan Injil: "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:19-20). Berdasarkan perutusan ini mereka "pergi memberitakan Injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:20).
3 Barang siapa dengan bantuan Allah telah menerima panggilan ini dan telah menyetujuinya dalam kebebasan, ia didorong oleh cinta kepada Kristus supaya mewartakan Kabar Gembira kepada seluruh dunia. Warisan bernilai yang diterima dari para Rasul ini dipelihara dengan setia oleh pengganti-pengganti mereka. Semua yang beriman kepada Kristus dipanggil supaya melanjutkannya dari generasi ke generasi, dengan mewartakan imam dengan menghayatinya dalam persekutuan persaudaraan dan dengan merayakannya dalam liturgi dan dalam doa.
II. Mewariskan Iman - Katekese
4 Gereja berusaha untuk menjadikan manusia murid-murid Kristus; ia hendak membantu mereka agar dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah, supaya dengan perantaraan iman itu mereka memperoleh kehidupan dalam nama-Nya. Melalui pengajaran, Gereja berusaha mendidik manusia menuju kehidupan mi dan dengan demikian membangun Tubuh Kristus. Semua usaha ini sudah sejak dahulu disebut katekese.
5 Katekese ialah "pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang pada khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, dan yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para. pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristen" (CT 18).
6 Katekese berhubungan erat dengan beberapa unsur tugas pemeliharaan rohani Gereja, unsur-unsur itu sendiri memiliki sifat kateketis, mempersiapkan katekese atau merupakan akibat darinya: pewartaan perintis tentang Injil, artinya khotbah misioner demi membangkitkan iman; mencari sebab-sebab untuk beriman; mengalami kehidupan Kristen; merayakan Sakramen-sakramen; diterima dalam persekutuan Gereja serta memberikan kesaksian apostolik dan misioner.
7 Katekese erat sekali berkaitan dengan seluruh kehidupan Gereja. Bukan saja meluasnya lingkup geografis dan pertumbuhan jumlah anggotanya, melainkan terutama perkembangan rohaninya dan keselarasan hidupnya dengan rencana Allah secara hakiki tergantung pada katekese" (CT 13).
8 Periode pembaharuan Gereja adalah juga musim berkembangnya katekese. Demikianlah dalam zaman luhur bapa-bapa Gereja, Uskup-uskup yang suci telah mengabdikan sebagian besar pelayanan rohani mereka kepada katekese. Itulah zaman Santo Sirilus dari Yerusalem dan santo Yohanes Krisostomus, santo Ambrosius dan santo Agustinus dan banyak bapa-bapa yang lain; karya kateketis mereka masih tetap patut dicontoh.
9 Pelayanan katekese selalu menimba kekuatan baru dari konsili-konsili. Dalam hubungan ini Konsili Trente merupakan satu contoh yang sangat berarti; dalam konstitusi dan dekretnya ia memberi tempat yang terhormat kepada katekese; darinya muncullah Katekismus Romawi, yang dinamakan juga Katekismus Tridentin, dan yang sebagai ringkasan ajaran Kristen merupakan karya terkemuka; konsili itu memberi dorongan di dalam Gereja untuk mengatur katekese dengan lebih baik dan menghasilkan penerbitan banyak katekismus berkat para Uskup dan teolog yang suci seperti santo Petrus Kanisius, Santo Karolus Boromeus, Santo Turibio dari Mongrovejo dan Santo Robertus Belarminus.
10 Maka tidak mengherankan, bahwa sesudah Konsili Vatikan II, yang dipandang oleh Paus Paulus VI sebagai katekismus besar untuk waktu sekarang, katekese Gereja menarik lagi perhatian. Direktorium katekese umum tahun 1971, sinode Para Uskup mengenai evangelisasi (1974) dan mengenai katekese (1977) demikian juga surat-surat apostolik yang berkaitan yakni "Evangelii Nuntiandi" (1975) dan "Catechesi tradendae" (1979) memberikan kesaksian tentang itu. Sinode luar biasa para Uskup tahun 1985 menghimbau agar disusun "satu katekismus atau satu kompendium mengenai seluruh ajaran iman dan kesusilaan Katolik" (Laporan akhir II B a 4). Paus Yohanes Paulus II menjadikan keinginan sinode para Uskup ini sebagai tugas pribadinya ketika ia mengakui bahwa "keinginan ini sangat sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya dari Gereja universal dan Gereja-gereja lokal" (Wejangan 7 Desember 1985). Ia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi keinginan bapa-bapa sinode ini.
III. Tujuan dan Sasaran Katekismus
11 Katekismus ini hendak menyampaikan dalam terang Konsili Vatikan II dan seluruh tradisi Gereja satu sintesis yang organis mengenai isi yang hakiki dan mendasar tentang ajaran iman dan kesusilaan Katolik. Sumber-sumber utamanya adalah Kitab Suci, bapa-bapa Gereja, liturgi, dan magisterium Gereja. Katekismus ini dimaksudkan sebagai "acuan untuk katekismus atau kompendium yang harus disusun di berbagai wilayah" (Sinode para Uskup 1985, Laporan Akhir II B a 4).
12 Katekismus ini diperuntukkan terutama bagi mereka yang bertanggung jawab mengenai katekese: pada tempat pertama untuk para Uskup sebagai guru iman dan gembala Gereja. Katekismus ini diberikan kepada mereka sebagai bantuan kerja dalam tugas mengajar Umat Allah. Selain bagi para Uskup, katekismus ini juga dimaksudkan bagi pengarang katekismus, para imam, dan katekis. Tetapi diharapkan, agar juga merupakan bacaan berguna bagi semua warga Kristen yang lain.
IV. Kerangka Katekismus
13 Katekismus ini disusun sesuai dengan keempat tiang utama dalam tradisi besar penyusunan katekismus: pengakuan iman pembaptisan (pengakuan iman atau syahadat), Sakramen-sakramen iman, kehidupan iman (perintah-perintah) dan doa orang beriman (Bapa Kami).
Pengakuan Iman (Bagian I)
14 Barang siapa bergabung dengan Kristus melalui iman dan Pembaptisan harus mengakui iman pembaptisannya di depan manusia [1]. Karena itu, katekismus ini berbicara pertama-tama mengenai wahyu, olehnya Allah berpaling kepada manusia dan memberikan Diri kepadanya, dan mengenai iman dengannya manusia menjawab wahyu Allah itu (Seksi I). Pengakuan iman mencakup semua anugerah yang diberikan Allah kepada manusia sebagai pemrakarsa segala yang baik, sebagai penebus, dan sebagai pengudus. Pengakuan iman tersusun sesuai dengan tiga pokok utama iman pembaptisan kita yaitu: iman kepada Allah yang esa, Bapa yang mahakuasa, dan Pencipta; iman kepada Yesus Kristus, Putera-Nya, Tuhan kita, dan Penebus. Dan iman kepada Roh Kudus dalam Gereja yang kudus (Seksi II).
Sakramen-sakramen Iman (Bagian II)
15 Bagian kedua dari katekismus menguraikan bagaimana keselamatan, yang dikerjakan satu kali untuk selama-lamanya oleh Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus itu, dihadirkan bagi kita: melalui kegiatan-kegiatan kudus liturgi Gereja (Seksi I), terutama melalui ketujuh Sakramen (Seksi II).
Kehidupan dalam Iman (Bagian III)
16 Bagian ketiga menjelaskan tujuan akhir manusia yang diciptakan menurut citra Allah: kebahagiaan; bagian ini memperkenalkan juga jalan menuju ke tujuan itu: tindakan yang bebas dan tepat dengan bantuan petunjuk dan rahmat Allah (Seksi I). Tindakan ini ialah memenuhi hukum ganda cinta kasih seperti yang dikembangkan dalam sepuluh perintah Allah (Seksi II).
Doa dalam Kehidupan Iman (Bagian IV)
17 Bagian terakhir katekismus berbicara tentang arti dan nilai doa dalam kehidupan seorang beriman (Seksi I). Bagian ini ditutup dengan satu komentar singkat mengenai ketujuh permohonan doa Tuhan, "Bapa Kami" (Seksi II). Dalam permohonan-permohonan ini terdapat keseluruhan isi harapan kita yang akan dianugerahkan Bapa surgawi kepada kita.
V. Petunjuk Praktis untuk Menggunakan Katekismus
18 Katekismus ini dimaksudkan sebagai satu penjelasan organis seluruh iman Katolik. Dengan demikian, orang harus membacanya sebagai satu kesatuan. Petunjuk yang banyak dalam catatan kaki dan pada tepi teks, demikian pula indeks pada akhir buku memungkinkan orang melihat tiap tema dalam hubungannya dengan iman secara menyeluruh.
19 Sering kali Kitab Suci tidak dikutip secara harfiah, tetapi hanya ditunjuk saja (pada catatan kaki). Membaca ulang teks-teks Kitab Suci yang bersangkutan sangat membantu suatu pengertian yang lebih mendalam. Penunjukan teks-teks Kitab Suci ini pun dimaksudkan sebagai bantuan untuk katekese.
20 Bagian yang dicetak dengan huruf kecil mengandung catatan historis atau apologetik atau juga penjelasan dan pelajaran yang melengkapi.
21 Kutipan-kutipan dengan huruf kecil diangkat dari sumber patristik, liturgi, magisterium, atau hagiografi guna memperkaya penjelasan ajaran. Sering kali teks-teks ini dipilih sekian, agar bisa langsung digunakan dalam katekese.
22 Pada akhir tiap tema, teks-teks singkat menyimpulkan isi ajaran yang hakiki dalam rumusan padat. Teks-teks itu ingin mendorong katekese lokal untuk merumuskan kalimat-kalimat singkat yang dapat dihafal.
VI. Penyesuaian yang Perlu
23 Katekismus ini pada tempat pertama sekali bermaksud untuk menjelaskan ajaran. Gunanya ialah untuk memperdalam pengetahuan iman. Dengan demikian, ia bertujuan agar iman semakin matang, semakin berakar dalam kehidupan, dan semakin bercahaya dalam kesaksian [4].
24 Berdasarkan tujuannya maka katekismus ini sendiri tidak dapat membuat penyesuaian dalam penjelasan dan metode kateketik yang dituntut oleh perbedaan dalam kultur, tahap kehidupan, dalam kehidupan rohani, dalam situasi kemasyarakatan dan gerejani dari para alamat. Penyesuaian yang mutlak perlu ini merupakan tugas katekismus-katekismus lokal dan terutama tugas mereka yang bertanggung jawab atas pengajaran umat beriman:
"Barang siapa menjalankan tugas mengajar, harus menjadi segala-galanya untuk semua (1 Kor 9:22), supaya memenangkan semua mereka untuk Kristus ... janganlah ia mengira bahwa manusia yang dipercayakan kepada pelayanannya semuanya mempunyai sifat yang sama, sehingga ia dapat mengajar mereka semua dengan cara yang sama menurut skema yang mapan dan pasti, untuk membentuk mereka ke arah kesalehan yang benar. Sebaliknya sebagian dari mereka adalah bagaikan `bayi yang baru lahir (1 Ptr 2:2); yang lain baru mulai bertumbuh dalam Kristus; sedangkan beberapa sudah termasuk usia dewasa ... Mereka yang dipanggil untuk tugas ini harus mengerti bahwa sangat perlu, agar dalam usaha mengajarkan misteri iman dan perintah kehidupan, ajaran disesuaikan dengan daya pikir dan daya tangkap para pendengar" (Catech.R. Pengantar 11).
Terutama - Cinta
25 Pada akhir pengantar ini perlu diingatkan lagi akan pedoman pastoral, yang dalam Katekismus Roma dirumuskan sebagai berikut:
"Seluruh nasihat dan pengajaran harus diarahkan kepada cinta yang tidak mengenal titik akhir. Jadi, kalau orang hendak menjelaskan sesuatu yang harus diimani, diharapkan atau dilaksanakan - maka selalu harus terutama cinta kepada Tuhan kita dianjurkan, supaya setiap orang dapat mengerti bahwa semua amal kebajikan kesempurnaan Kristen hanya bersumber pada cinta dan hanya mengenal satu tujuan, yaitu cinta" (Pengantar 10).
Ajaran Sosial Gereja
Ajaran Sosial Gereja (biasa disingkat ASG), adalah kumpulan dokumen-dokumen resmi Gereja Katolik, seputar perhatiannya kepada masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya. Gereja sedari dulu tidak ingin menjadi menara gading yang berdiri kokoh, namun lingkungan sekitarnya terabaikan dan tertindas.
Baiklah kiranya jika kita lebih mengenal sedikit saja tentang ajaran-ajaran itu; sehingga dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan nyata kita sekarang.
Ada 13 dokumen yang dapat dikategorikan sebagai ASG :
1. Rerum Novarum, "Keadaan Buruh", 1891, Paus Leo XIII
2. Quadragesimo Anno, "Empat Puluh Tahun Kemudian", 1931, Paus Pius XI
3. Mater et Magistra, "Kekristenan dan Kemajuan Sosial", 1961, Paus Yohanes XXIII
4. Pacem in Terris, "Perdamaian Dunia", 1963, Paus Yohanes XXIII
5. Gaudium et Spes,"Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern",1965, Konsili Vatikan II
6. Dignitatis Humanae, "Deklarasi tentang Kebebasan Beragama", 1965, Konsili Vatikan II
7. Populorum Progressio, "Tentang Kemajuan Bangsa", 1967, Paus Paulus VI
8. Octogesima Adveniens, "Panggilan untuk bertindak, dalam rangka Memperingati ulang tahun ke-80 Rerum Novarum, 1971, Paus Paulus VI
9. Iustitia in Mundo, "Keadilan di Dunia", 1971, Sinode Uskup di Roma
10. Evangelii Nuntiandi, "Penginjilan dalam dunia modern", 1975, Paus Paulus VI
11. Laborem Excersens, "Tentang Kerja Manusia", 1981, Paus Yohanes Paulus II
12. Solicitudo rei socialis, "Tentang Keprihatinan Sosial", 1987, Paus Yohanes Paulus II
13. Centesimus Annus, "Pada peringatan Ulang Tahun ke-100 Rerum Novarum", 1991, Paus Yohanes Paulus II
Keseluruhan dokumen tersebut haruslah dibaca dan dimengerti sesuai dengan jaman yang melingkupi pembuatan dokumen tersebut, inilah kekayaan kita yang menghargai adanya Tradisi dalam gereja kita. Misalnya munculnya Rerum Novarum, tidak lepas dari situasi abad ke-19
dimana buruh / pekerja kurang dimanusiawikan dalam lingkup dunia industri saat itu.
Jika tertarik untuk mendalami satu per satu ajaran itu, baiklah untuk sejenak membaca beberapa buku yang sudah beredar dalam bahasa Indonesia, seperti :
1. Ajaran Sosial Katolik 1891 - sekarang; Buruh, Petani, dan Perang Nuklir; Charles E. Curran, terjemahan Kanisius 2007.
2. Ajaran Sosial katolik, R Hardaputranto, Seri Forum LPPS No.18, LPPS, 1991
3. Solidaritas: 100 tahun Ajaran Sosial Katolik, Kanisius, 1992
4. Pokok-pokok Ajaran Sosial katolik, Michael Schulties, terj. Kanisius, 1993
5. Diskursus Sosial Gereja sejak Leo XIII, Eddy Krisitanto, Dioma, 2003
6. Bukan Kapitalisme, Bukan Sosialisme, Kanisius, 2004
7. Kumpulan Dokumen Ajaran Sosial katolik tahun 1891-1991, terj. R Hardawiryana, Dokpen KWI, 1999
Dan ada beberapa situs yang dapat dijadikan bantuan utk berdiskusi juga ada :
1. www.sabda.org
2. www.ekaristi.org
3. www.pondokrenungan.com
4. www.gerejakatolik.net
2. Dari Rerum Novarum hingga Quadragesimo anno
Gerakan enlightment,- sebuah gerakan pencerahan muncul pada abad ke-18 di seluruh daratan eropa. Gerakan intelektual ini menekankan kebebasan individu serta kebebasan manusia. Pengaruhnya terasa pada ajaran sosial Katolik serta kehidupan sosial dan lebih-lebih dalam teori politik dan praktik. Ada sebuah upaya untuk memadukan keduanya, dialog antara Gereja dan liberalisme politik. Namun, akhirnya Gereja merasa kebebasan individu, kebebasan manusia, dan akal budi manusia seharusnya tidak terpisah dari hubungannya dengan Allah dan hukum Allah. Dilanjutkan pada abad ke-19, pada abad revolusi industri. Gereja mulai melihat adanya penderitaan kaum buruh dimana-mana. Buruh-buruh ini tidak mempunyai pendapatan yang layak, upah minimal. Tak ada undang-undang tentang pembatasan jam kerja, hak untuk berorganisasi, asuransi kecelakaan, perlindungan terhadap PHK. Pengusaha dengan seenaknya mengejar keuntungan, tanpa memperhitungkan kesejahteraan para buruh. Dengan demikian Kapitalisme ditolak. ( Rasanya, sampai sekarang hal ini masih relevan di Indonesia .... )
Sejalan dengan penderitaan kaum buruh itu, muncullah kritik atas sistem modal. Ada upaya untuk mencita-citakan masyarakat yang sejahtera, damai. Tenaga kerja dan pekerjaan diarahkan tidak untuk memperoleh keuntungan pribadi, tetapi untuk mencapai kehidupan yang menyenangkan. Negara diharapkan berperan besar dalam hal ini. Segala hal harus diatur oleh Negara. Inilah inti gerakan sosialisme pada waktu itu. Dan lagi-lagi dialog antara Gereja dan sosialisme terjadi. Gereja menolak terlalu besarnya peran Negara ini. Gereja memilih jalan tengah. Muncullah Rerum Novarum. 1891. Bukan kapitalisme. Bukan Sosialisme.
Gereja mengakui hak sah dan kebutuhan partisipasi oleh semua orang dalam hal milik pribadi, namun mendukung upah yang adil, hak buruh untuk berorganisasi, dan kebutuhan intervensi terbatas oleh Negara untuk menolong kelompok-kelompok yang ada dalam kesulitan.
"Ketika kepentingan umum dari sebuah kelas terganggu atau terancam oleh kejahatan yang tidak mungkin dapat diatasi, otoritas publik ( negara ) harus masuk untuk menghadapinya .......... Hukum tidak boleh berbuat lebih banyak dan tidak boleh masuk terlalu jauh daripada yang dibutuhkan untuk menangkal kejahatan dan menyingkirkan bahaya." ( Rasanya, juga masih relevan terjadi di negara kita ... )
Depresi besar akibat gelombang revolusi industri masih terjadi di awal abad ke-20. Dan buruh adalah korbannya. Tuan-tuan pemodal tetap bergembira. Kutukan Gereja terhadap bentuk extrem sosialisme dan individualisme kapitalistik tetap menggema.
Dengan lebih tegas, Quadragesimo anno, menyerukan perlunya intervensi negara dan hak terbatas atas hak milik pribadi yang mempunyai dimensi sosial. Kita ingat tahun 1931 adalah tahun krisis di Eropa dan Amerika.
Mungkin ringkasan ini terlalu singkat untuk menjelaskan masa-masa revolusi industri dalam dunia modern pasca Renaissance.
Khusus untuk Pergumulan pemikiran di era modern ini dapat dibaca lebih detil dalam buku Filsafat Modern, karangan F Budi Hardiman, yang menggambarkan dengan jelas proses pemikiran akhir abad pertengahan hingga awal abad ke-20. Begitu banyak pergumulan ide, berbagai pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan yang mendasari segala hal yang terjadi pada masa itu, bahkan hingga kini.
Namun message dua ensiklik ini, oleh Paus Leo XIII dan Pius XI bahwa kita harus terlibat dan berpartisipasi memberi perhatian dalam ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Kita wajib dan berhak mengumpulkan harta pribadi demi kehidupan yang lebih layak. Namun orang lain, kaum miskin, juga berhak mendapatkan penghidupan yang layak. Sebagian harta kita, adalah hak orang lain, hak kaum tertindas itu.
( bersambung .... )
Aug 22, 2008
Simbiosis Mutualis: Filsafat & Teologi
Seorang filosof-teolog skolastik, Thomas Aquinas, mengatakan bahwa filsafat itu hamba teologi (philosofia ancilla theologiae est). Maksudnya, mahkota dari sumber segala ilmu (filsafat) adalah teologi (refleksi ilmiah tentang iman kepada Allah). Teologi mestinya dilayani oleh ilmu-ilmu bantu, seperti filsafat.
Dalam periode skolastik, filsafat disebut hamba teologi tidak hanya karena kebenaran filsafat disubordinasikan pada kebenaran-kebenaran teologis, tetapi juga karena filsafat pertama-tama mengandalkan pada daya-daya insani saja.
Filsafat di sini punya makna luas, termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan. Ada kesan ungkapan tersebut berbau anyir untuk alam pikiran modern, khususnya di hadapan konflik wajar antara ilmu pengetahuan dan agama; apalagi kalau hal itu mengimplikasikan bahwa dogma hendaknya berada di atas pemikiran rasional.
Memikirkan dan mendengarkan
Memikirkan berarti melakukan penafsiran (interpretasi). Sebelum zaman Thomas Aquinas, teologi tidak dikaitkan dengan pemikiran rasional, sementara ia mendesakkan teologi mestinya menggunakan filsafat dalam arti luas sebagai sarananya (means). Gagasannya adalah untuk memperbaiki teologi, bukan untuk memperbudak filsafat.
Sebelum pemikiran Aquinas menjadi bentuk resmi teologi Katolik, dia dipandang dengan sebelah mata sebagai bidah (heresy) karena antaran filsafat Aristotelian yang diusahakannya ke dalam teologi. Mengingat Aristoteles adalah filosof pra-Kristen, maka pemikiran Aquinas dianggap sebagai antaran kekafiran ke dalam Kristianitas.
Padahal, titik pijak filsafat dan teologi sungguh berbeda. Filsafat tidak mengandaikan iman dan kepercayaan kepada Tuhan, yang diakui sebagai Yang Mutlak (absolut), sekalipun A Forest dalam La philosophie orante menulis, "Jika pikiran mencapai dasarnya, ia dengan sendirinya menjadi religius, bukan sesuatu yang disimpulkan, melainkan sebagai sesuatu yang pasti". Filsafat (philo dan sophia) berobjekkan ada, beraktivitas memikirkan.
Adapun titik pijak teologi adalah pengalaman (eksistensial dan empiris) beriman, yang merupakan tanggapan atas pernyataan Diri Allah. Di sini manusia beraktivitas mendengarkan. Ia mendengarkan firman (logos).
Tidak perlu di sini diangkat konflik filsafat dan teologi pada masa silam kalau kita tidak hendak terjerembab (meminjam tradisi filsafat analitik) dalam category mistrakes (Mengabdi Kebenaran/MK, halaman vii). Kalau masing-masing pengemban ilmu cukup rendah hati dan tidak angkuh, ia akan menerima kebenaran ini: pikiran yang membawa kita naik kepada Allah adalah kelanjutan dari gerak yang membawa kita kepada Ada (MK, halaman vii).
Kebenaran (veritas)
Manusia bukan kebenaran. Ia "hanyalah" pencari kebenaran. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menjadi tolok ukur kebenaran. Meski keingintahuan Pontius Pilatus tentang "apa itu kebenaran?" tidak terjawab, ukuran lazim kebenaran tidak sulit dirumuskan, yakni kesesuaian antara akal budi (rasio) dan kenyataan (realitas).
Kebenaran yang dipikirkan dan dicari itu imperatif sekaligus indikatif; hal mana berkaitan dengan tegangan antara tugas manusia mencari-menemukan kebenaran dan pemberian (gift) dari Allah (Bdk. Allah Menggugat (AM), halaman 488).
Buku Mengabdi Kebenaran memperlihatkan arus macam apa yang tengah diperjuangkan mazhab filsafat Ledalero. Sebanyak 9 dari 12 bagian buku ini mengembangkan dan berpijak pada konteks para penulis untuk menghormati Jozef Pieniazek yang genap berusia 80 tahun.
Pieniazek, yang telah mengajar filsafat lebih dari 40 tahun di Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, berhasil merajut dua tradisi: iman dan filsafat, dengan benang merah keutamaan-keutamaan (virtus) seperti ketulusan, kesetiaan, dan kejujuran (MK, halaman 25). Pieniazek dalam mazhab filsafat Ledalero merupakan figur sekaligus ikon yang mengajarkan apa yang diyakini (cfr. MK 329-366). Inilah kualitas seorang guru.
Beberapa penulis, mantan murid Pieniazek, bersandar pada paradigma pemikiran para tokoh seperti Alasdair MacIntyre (Bagian 1), Thomas Aquinas (Bagian 2), Walter Benjamin (Bagian 3), Emmanuel Levinas (Bagian 4), Krisna Chandra Bhattacharya (Bagian 6), Ibn Rush dan Thomas Aquinas (Bagian 7), Thomas More (Bagian 9), dan Karol Wojtyla (Bab 11).
Semua bahasan dibuat menukik di dalam kebenaran, mengingat kebenaran dapat dipelajari dari tradisi dan dari peguyuban di mana seseorang hidup (MK, halaman 1-25). Bukan De Veritate Thomas Aquinas jika tidak berbicara tentang kebenaran (MK, halaman 27-88).
Apa yang digumuli Walter Benjamin (filosof sejarah) adalah menyingkap kebenaran yang pasti memihak (MK, 89-134). Mengabdi pada kebaikan bersama (common good), teristimewa kelompok-kelompok kecil, memperlihatkan kualitas pribadi dan keberpihakan yang "menyandera".
Kebenaran itu terjadi dalam dialektika antara sikap kritis terhadap penyimpangan dan ketetapan yang perlu dipatuhi. Selain itu, juga dialog antara keyakinan pribadi (iman yang perlu dipertanggungjawabkan sebagai fides quaerens intellectum) dan budaya. Dialog ini respektif, saling memperkaya dan mengantar orang sampai pada tanggung jawab bersama.
Dalam konteks ini, "setia pada kebenaran" yang pernah dilansir Prof Sudarminta SJ mendapat teman dalam judul buku ini. Peran pendidikan dan pembentukan diri berkaitan erat dengan kebenaran. Kemudian contoh heroik diangkat oleh John M Prior mengenai Thomas More, yang berdiri sebatang kara di hadapan kesewenang-wenangan.
Kokoh, tak goyah, dan setia pada suara hati merupakan salah satu wujud konkret "mengabdi kebenaran". Tetap disadari sepenuhnya, pengabdian itu terancam gagal oleh kerapuhan insani, yang dalam bahasa teologis disebut dosa dan ketidakpercayaan.
G Kirchberger malah menandaskan, kebenaran itu inti agama Kristen (bdk. AM 71-87). Antusiasme tulisan ini sangat nyata. Tetapi, akankah ia bertahan jika dihadapkan pada pasar malam keselamatan yang diikuti oleh pluralitas agama?
Kibaran bendera kebenaran selain mengarah pada (martabat) manusia, juga pada iman akan Allah. Ini yang ditemukan dalam guratan mengenai Karol Wojtyla, Santo Subito! Semua hermeneuse tentang kebenaran akhir-akhirnya perlu diyakini dan berbuah dalam penghayatan hidup bermasyarakat.
Manakah gugatan Allah?
Sejarah, yang merupakan "wadah" di mana manusia memiliki pengalaman akan kearifan, kebenaran, Allah, kerapuhan merupakan locus theologicus. Meskipun Allah itu dapat dialami, tetapi Allah tidak terbilang dalam kategori pemikiran. "Allah itu Allah" (AM, halaman vi). Di sinilah eksistensi Allah mengasumsikan iman-kepercayaan.
Asumsi itu dibingkai dalam kerangka kerja yang pertama-tama mengolah tradisi iman dan filsafat (MK, halaman 24). Halnya sangat jelas sehingga unsur yang berbeda itu akhirnya terjadi simbiosis mutualis. Dalam konteks ini, berteologi mengandaikan ragam sumbangan antara lain dari filsafat, sosiologi, psikologi, dan antropologi.
Alur kedua buku sangat bagus dan kuat sehingga memang sanggup menerbitkan mentari kebenaran dari Nusa Tenggara Timur. Tilik saja Allah Menggugat! Karya Kirchberger ini sangat enak dibaca, sistematis dan runtut, tidak menjadi luntur dan dangkal, meski diracik dengan kosakata yang sederhana dan bersahaja. Kentara sekali penulis AM dibesarkan dalam tradisi intelektual Aristotelian yang thomistik, meski lulusan St Augustin.
Buku ini menuturkan perjalanan dan muatan kebegawanan, yang intinya adalah kebenaran. Kebenaran itu disikapi dalam cara hidup (style of life) secara positif-optimistik. Memadukan antara apa yang diandalkan manusia (yakni martabat luhurnya: akal budi, kebebasan, hati nurani, arah dan tujuan hidup ini) dan apa yang Allah singkapkan pada manusia.
Penyingkapan Allah itu bagaikan gugatan yang mesti disuarakan yang jelas. Persis inilah the prophecy of life. Gugatan Allah di sini ditujukan pada dua semangat dasar yang salah arah: persaingan yang mematikan dan kekerasan yang menyingkirkan.
Simbiosis
Kecermatan seorang Kirchberger teruji ketika AM praktis menjadi Summa Theologica setelah 30 tahun beliau merambah dunia dogmatika dengan tetap memiliki konsern pada eklesiologi. AM mengingatkan saya pada Teologi Sistematika (2 Jilid, Kanisius 2005), yang juga merupakan Compendium teologi N Dister, yang disebut oleh Prof Franz Magnis-Suseno sebagai salah seorang teolog Indonesia utama dalam 30 tahun terakhir. Diskursus, April 2005, 92.
Simbiosis mutualis antara MK dan AM melengkapi khazanah keilmuan dalam laku hermeneutika. Simbiosis ini tidak akan terjadi jika masing-masing disiplin ilmu saling mengeksklusikan.
Inilah kontribusi mendasar kedua buku ini. Yang satu (MK) menegaskan pencarian kebenaran yang belum selesai, yang lain (AM) mengarahkan dengan keyakinan religius ke mana pencarian itu hendaknya diakhiri.
Yang satu (AM) bergerak menurun agar tidak spekulatif-akademis-elitis, melainkan kontekstual dan menelanjangi diri dalam kebecekan lumpur insani. Yang lain (MK) menjadi gelar simfoni mazhab filsafat Ledalero yang nyaris tanpa cacat, kecuali (MK 15) yang mengundang kernyitan dahi.
Persenyawaan filsafat dan teologi melahirkan ilmu humaniora (dalam ranah septem liberales) yang tidak pernah netral. Mengenali gugatan Allah tanpa pengolahan daya nalar-filosofis akan melahirkan fundamentalisme yang destruktif. Memadukan antara MK dan AM berarti menakar kesungguhan keterlibatan ilmu pada masalah-masalah sosial, bahkan yang sakral sekalipun.
Kalau sesanti filosofis berbunyi "Di tengah kedangkalan, kami tawarkan kedalaman", maka nubuat teologis begini: "kami menjadikan kepercayaan, mitra pemerdekaan". Keduanya merayakan kemanusiaan dengan kualifikasi tertentu.
Simbiosis dan pemaduan itu bagaikan peristiwa inkarnasi, di mana Allah "berkemah" bersama manusia. Dia menjadi salah seorang di antara kita. Maksud-Nya agar kemanusiaan diluhurkan dan kembali kepada martabatnya.
*) Eddy Kristiyanto Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Alam
Harmoni, Damai, dan Abadi
Harmoni,
tidak ada batang pohon yang cukup bodoh untuk saling mematahkan
Damai,
karena semuanya saling melengkapi.
Air laut menguap naik karena sinar matahari.
Hujan membawanya turun.
Sungai yang mengembalikannya ke laut.
Abadi,
karena dalam diam, alam sedang menyuarakan suara-suara keabadian.
Dengan bantuan kepekaan, ada yang menemukan:
Alam ada, lebih dari sekedar membuat manusia hidup.
Alam juga tanda-tanda jalan pulang menuju kedamaian abadi.
( Gede Prama, 2004 )
Aug 20, 2008
resiko
sehingga
kebanyakan dari mereka memang tidak berpeluang untuk memperoleh hasil yang luar biasa.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih,
seseorang memang diharapkan untuk dapat mengambil resiko,
tentunya bukan resiko yang tanpa perencanaan dan pertimbangan matang,
karena setiap sukses dicapai dengan persiapan yang baik,
dan keputusan untuk melakukan sesuatu dengan resiko yang telah diperhitungkan.
Dari Teologi Pembebasan ke Sosialisme Baru
Setelah terpana oleh Teologi Pembebasan, dunia kembali terentak oleh gemuruh gerakan sosialisme baru di Amerika Latin. Gerakan ”sosialisme dalam praktik” sedang menerjang jauh ke dalam sudut-sudut kawasan Amerika Latin.
Selama ini sosialisme hanya menjadi ideologi dan bahan retorika kaum elite yang hanya menciptakan kesadaran palsu, atau kesadaran naif dalam istilah Paulo Freire, yang menjauhkan prinsip itu dari kenyataan hidup rakyat sehari-hari.
Pergulatan Teologi Pembebasan telah melucuti dan membongkar kepalsuan sosialisme di tingkat elite dengan mengembalikannya kepada kemurnian praktik pada kehidupan rakyat sesuai dengan istilah itu dimaksudkan.
Teologi Pembebasan ibarat lahan gembur, yang memberi ruang bagi munculnya momentum penting yang langsung merekah ketika Hugo Chavez tampil di panggung politik Venezuela tahun 1998 dengan mengusung neososialisme. Tidak tanggung-tanggung, dalam tempo 10 tahun, sembilan negara Amerika Latin menganut sosialisme baru.
Gulungan gelombang neososialisme sudah menjangkau Venezuela, Brasil, Ekuador, Argentina, Cile, Peru, Nikaragua, Uruguay, dan Paraguay. Spiritualitas sosialisme baru itu juga mulai terasa kencang di Kuba sebagai lahan kering penganut sosialisme ideologis.
Lokomotif gerakan ”sosialisme dalam praktik” terus menarik gerbong-gerbong baru. Gerakan sosialisme mendapat angin kuat di kawasan Amerika Latin, yang diduga akan membawa angin sepoi ke seluruh dunia.
Gerakan sosialisme baru di Amerika Latin termasuk fenomenal setelah entakan hebat Teologi Pembebasan yang berkembang sejak awal tahun 1970-an. Semula gerakan neososialisme menimbulkan sinisme di tengah proses deideologisasi global setelah komunisme dicampakkan di Uni Soviet awal tahun 1990-an.
Sempat muncul keraguan, jangan-jangan Chavez seorang demagog, pandai beretorika tentang sosialisme, tetapi sebenarnya tidak beda dengan tokoh populis, seperti Joseph Estrada di Filipina, yang penuh korup.
Bahkan Chavez dituduh berilusi, sedang mencari sensasi di tengah dunia yang sedang mendiskreditkan sosialisme setelah kehancuran Uni Soviet pada pengujung tahun 1990. Bagi yang terpaku kepada pemahaman sosialisme sebagai ideologi, pernyataan Chavez semula dinilai ketinggalan zaman.
Semua terperangah
Namun, di luar dugaan, Chavez yang mengusung neososialisme tiba-tiba memenangi pemilihan presiden Venezuela tahun 1998. Sulit dijelaskan mengapa seseorang yang menjual sosialisme sebagai ideologi kusam yang sudah dicampakkan meraih kemenangan pemilu.
Reaksi terperangah bertambah karena Chavez bukan datang dari lingkungan elite atau partai politik yang telah lama mendominasi kehidupan bangsa dan negara. Chavez justru datang dari pinggiran sebagai seorang prajurit pemberontak, tetapi kemudian bergerak ke tengah bersama kawanan rakyat yang mengandalkan kemandirian berdasarkan spiritualitas Teologi Pembebasan.
Kemandirian itu juga dilakukan dalam perekrutan kepemimpinan. Jika selama ini pemimpin datang atau didatangkan dari atas, dari lingkungan elite, kini pemimpin lahir dari kawanan mereka sendiri.
Pengalaman selama ini sudah sangat mengecewakan karena harapan perubahan yang diserahkan kepada kepemimpinan kaum elite dan partai-partai politik sering dikhianati, bahkan rakyat miskin senantiasa dijadikan korban di altar penindasan dan pengisapan penguasa.
Chavez termasuk salah satu pemimpin yang lahir dari kawanan rakyat kebanyakan. Tanpa dukungan modal, partai besar, dan media massa, Chavez dan pemimpin sosialis Amerika Latin dapat merangkak naik menjadi pemimpin nasional.
Sumber kekuatan satu-satunya terletak pada rakyat yang mampu menghimpun diri, yang semula menjadi kelompok penekan dan kemudian melakukan transformasi vertikal sebagai kekuatan politik dan basis suara pemilihan.
Gerakan politik dari bawah, dari akar, ini tak hanya merontokkan kemapanan kelompok status quo, tetapi juga menampilkan pemimpin yang memihak kepentingan rakyat secara nyata.
Pengalaman Amerika Latin selama 10 tahun memperlihatkan juga kejatuhan kelompok yang mapan bukan melalui jalur revolusi atau pemberontakan, tetapi melalui pragmatisme etis yang menekankan kesejahteraan rakyat banyak.
Segera terlihat, sosialisme baru yang dimotori Chavez terbukti bersifat organik, hidup, dan bermanfaat bagi masyarakat. Lebih menarik lagi, Chavez tidak lupa diri ketika berada tinggi di panggung kekuasaan. Sekalipun kekuasaan memabukkan yang sering membuat politisi lupa diri dan lupa rakyat, Chavez mampu menjaga komitmennya.
Secara regional, Chavez menjadi ikon gerakan sosialisme baru yang berorientasi kepada praktik. Namun, kiprah kepemimpinan Chavez juga mengundang ketidaksenangan kelompok yang mapan. Upaya menggulingkan Chavez terjadi tahun 2002, tetapi posisinya tak tergoyahkan karena rakyat mendukungnya.
Secara global, gerakan Chavez dan kawan-kawan menimbulkan perlawanan keras, terutama pada penganut kapitalisme dan neoliberalisme. Amerika Serikat sebagai kampiun kapitalisme dan liberalisme dibuat frustrasi oleh langkah Chavez, yang memang secara vokal mengecam kebijakan AS.
Pengaruh AS di kawasan itu pun terus dipersempit oleh gerakan sosialisme dalam praktik, yang telah mengepung Amerika Latin. Bunyi gemuruh gerakan neososialisme benar-benar sudah mengganggu adidaya AS.
Rikard Bagun, Kompas, 10 Agustus 2008.
Aug 18, 2008
Tan Malaka, sejak Agustus itu
SAYA bisa bayangkan pagi hari 17 Agustus 1945 itu, di halaman sebuah rumah di Jalan Pegangsaan, Jakarta: menjelang pukul 09:00, semua yang hadir tahu, mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa.
Hari itu memang ada yang menerobos dan ada yang runtuh. Yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik; Hindia Belanda sudah tak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikannya baru saja kalah. Yang ambruk sebuah wacana.
Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan, dan sebaliknya membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ”kami, bangsa Indonesia”–apalagi sebuah ”kami” yang bisa ”menyatakan kemerdekaan”.
Agustus itu memang sebuah revolusi, jika revolusi, seperti kata Bung Karno, adalah ”menjebol dan membangun”. Wacana kolonial yang menguasai penghuni wilayah yang disebut ”Hindia Belanda” jebol, berantakan. Dan ”kami, bangsa Indonesia” kian menegaskan diri.
Sebulan kemudian, 19 September 1945, dari pelbagai penjuru orang mara berduyun menghendaki satu rapat akbar untuk menegaskan ”kemerdekaan” mereka, ”Indonesia” mereka. Bahkan penguasa militer Jepang tak berdaya menahan pernyataan politik orang ramai di Lapangan Ikada itu.
Dua tahun kemudian, meletus pertempuran yang nekat, sengit, dan penuh korban, ketika ratusan pemuda melawan kekuatan militer Belanda yang hendak membuat negeri ini ”Hindia Belanda” kembali. Dari medan perang itu Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Di Tepi Kali Bekasi: sebuah revolusi besar sedang terjadi, ”revolusi jiwa—dari jiwa jajahan dan hamba menjadi jiwa merdeka….”.
Walhasil, sebuah subyek (”jiwa merdeka”) lahir. Agaknya itulah makna dari mereka yang gugur, terbaring, tinggal jadi ”tulang yang berserakan, antara Krawang dan Bekasi”, seperti disebut dalam sajak Chairil Anwar yang semua kita hafal. Subyek lahir sebagai sebuah laku yang ”sekali berarti/sudah itu mati”, untuk memakai kata-kata Chairil lagi dari sajak yang lain. Sebab subyek dalam revolusi adalah sebuah tindakan heroik, bukan seorang hero.
Dalam hal ini Tan Malaka benar: ”Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa.”
Tan Malaka menulis kalimat itu dalam Aksi Massa yang terbit pada 1926. Dua puluh tahun kemudian memang terbukti bahwa, seperti dikatakannya pula, ”Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.”
Itulah Revolusi Agustus.
Tapi kemudian tampak betapa tak mudahnya memisahkan perbuatan yang heroik dari sang X yang berbuat, yang terkadang disambut sebagai ”hero” atau ”pelopor”. Sebab tiap revolusi digerakkan oleh sebuah atau sederet pilihan + keputusan, dan tiap keputusan selalu diambil oleh satu orang atau lebih. Dan ketika revolusi hendak jadi perubahan yang berkelanjutan, ia butuh ditentukan oleh satu agenda. Ia juga akan dibentuk oleh satu pusat yang mengarahkan proses untuk melaksanakan agenda itu.
Sekitar seperempat abad setelah 1945, Bung Karno, yang ingin menegaskan bahwa Revolusi Agustus ”belum selesai”, mengutarakan sebuah rumus. Ia sebut ”Re-So-Pim”: Revolusi-Sosialisme-Pimpinan. Bagi Bung Karno, revolusi Indonesia mesti punya arah, punya ”teori”, yakni sosialisme, dan arah itu ditentukan oleh pimpinan, yakni ”Pemimpin Besar Revolusi”.
Tan Malaka tak punya rumus seperti itu. Tapi ia tetap seorang Marxis-Leninis yang yakin akan perlunya ”satu partai yang revolusioner”, yang bila berhubungan baik dengan rakyat banyak akan punya peran ”pimpinan”.
Bahwa ia percaya kepada revolusi yang ”timbul dengan sendirinya”, hasil dari ”berbagai keadaan”, menunjukkan bagaimana ia, seperti hampir tiap Marxis-Leninis, berada di antara dua sisi dialektika: di satu sisi, perlunya ”teori” atau ”kesadaran” tentang revolusi sosialis; di sisi lain, perlunya (dalam kata-kata Tan Malaka) ”pengupasan yang cocok betul atas masyarakat Indonesia”.
Di situ, ada ambiguitas. Tapi ambiguitas itu agaknya selalu menghantui agenda perubahan yang radikal ke arah pembebasan Indonesia.
l l l
TAK begitu jelas, apa yang dikerjakan Tan Malaka pada Agustus 1945. Yang bisa saya ikuti adalah yang terjadi sejak proklamasi kemerdekaan bergaung.
Beberapa pekan setelah 17 Agustus 1945, di Serang, wilayah Banten, Tan Malaka bertemu dengan Sjahrir. Mungkin itulah buat pertama kalinya tokoh kiri radikal di bawah tanah itu berembug dengan sang tokoh sosial demokrat. Tan Malaka dan Sjahrir secara ideologis berseberangan; seperti halnya tiap Marxis-Leninis, Tan Malaka menganggap seorang sosial-demokrat sejenis Yudas.
Tapi seperti dituturkan kembali oleh Abu Bakar Lubis —orang yang menyatakan pernah dapat perintah Presiden Soekarno untuk menangkap Tan Malaka—dalam pertemuan di Serang itu Tan Malaka mengajak Sjahrir untuk bersama-sama menyingkirkan Soekarno sebagai pemimpin revolusi. Menurut cerita yang diperoleh A.B. Lubis pula, Sjahrir menjawab: jika Tan Malaka bisa menunjukkan pengaruhnya sebesar 5 persen saja dari pengaruh Soekarno di kalangan rakyat, Sjahrir akan ikut bersekutu.
Ada sikap meremehkan dalam kata-kata Sjahrir itu. Konon ia juga menasihati agar Tan Malaka berkeliling Jawa untuk melihat keadaan lebih dulu sebelum ambil sikap.
Jika benar penuturan A.B. Lubis (saya baca dalam versi Inggris, dalam jurnal Indonesia, April 1992), pertemuan di Serang itu lebih berupa sebuah perselisihan: sang ”radikal” tak cocok dengan sang ”pragmatis”.
Tan Malaka tampaknya hendak menjalankan tesis Trotsky tentang ”revolusi terus-menerus”. Bagi Trotsky, di sebuah negeri seperti Rusia dan Indonesia—yang tak punya kelas borjuasi yang kuat—revolusi sosialis harus berlangsung tanpa jeda. Trotsky tak setuju dengan teori bahwa dalam masyarakat seperti Rusia dan Indonesia revolusi berlangsung dalam dua tahap: pertama, tahap ”borjuis” dan ”demokratis”; kedua, baru setelah itu, ”tahap sosialis”.
Bagi Trotsky, di negeri yang ”setengah-feodal dan setengah-kolonial”, kaum borjuis terlampau lemah untuk menyelesaikan agenda revolusi tahap pertama: membangun demokrasi, mereformasi pemilikan tanah, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Maka kaum proletarlah yang harus melaksanakan revolusi itu. Begitu tercapai tujuannya, kelas buruh melanjutkan revolusi tahap kedua, ”tahap sosialis”.
Ini tentu sebuah pandangan yang terlampau radikal—bahkan bagi Rusia pada tahun 1920-an, di suatu masa ketika Lenin terpaksa harus melonggarkan kendali Negara atas kegiatan ekonomi, dan kelas borjuis muncul bersama pertumbuhan yang lebih pesat. Di Indonesia agenda Trotskyis itu bisa seperti garis yang setia kepada gairah 1945. Dilihat dari sini, niat Tan Malaka tak salah: ia, yang melihat dirinya wakil proletariat, harus menggantikan Soekarno, wakil kelas borjuis yang lemah.
Tapi Sjahrir, sang ”pragmatis”, juga benar: pengaruh Tan Malaka di kalangan rakyat tak sebanding dengan pengaruh Bung Karno. Dunia memang alot. Di sini ”pragmatisme” Sjahrir (yang juga seorang Marxis), sebenarnya tak jauh dari tesis Tan Malaka sendiri. Kita ingat tesis pengarang Madilog ini: revolusi lahir karena ”berbagai keadaan”, bukan karena adanya pemimpin dengan ”otak yang luar biasa”.
Tapi haruskah seorang revolusioner hanya mengikuti ”berbagai keadaan” di luar dirinya? György Lukács, pemikir Marxis yang oleh Partai Komunis pernah dianggap menyeleweng itu, membela dirinya dalam sebuah risalah yang dalam versi Jerman disebut Chvostismus und Dialektik, dan baru diterbitkan di Hungaria pada 1996, setelah 70 tahun dipendam.
Dari sana kita tahu, Lukács pada dasarnya dengan setia mengikuti Lenin. Ia mengecam ”chvostismus”. Kata ini pernah dipakai Lenin untuk menunjukkan salahnya mereka yang hanya ”mengekor” keadaan obyektif untuk menggerakkan revolusi. Bagi Lenin dan bagi Lukács, revolusi harus punya komponen subyektif.
Tentu, ada baku pengaruh antara dunia subyektif dan dunia obyektif; ada interaksi antara niat dan kesadaran seorang revolusioner dan ”berbagai keadaan” di luar dirinya. Tapi, kata Lukács, di saat krisis, kesadaran revolusioner itulah yang memberi arah. Penubuhannya adalah Partai Komunis.
Tapi seberapa bebaskah ”kesadaran revolusioner” itu dari wacana yang dibangun Partai itu sendiri? Saktikah Partai Komunis hingga bisa jadi subyek yang tanpa cela, sesosok hero?
Ternyata, sejarah Indonesia menunjukkan PKI juga punya batas. Partai ini harus mengakui kenyataan bahwa ia hidup di tengah ”lautan borjuis kecil”. Agar revolusi menang, ia harus bekerja sama dengan partai yang mewakili ”borjuis kecil” itu. Ia tak akan berangan-angan seperti Tan Malaka yang hendak merebut kepemimpinan Bung Karno. Di bawah Aidit, PKI bahkan akhirnya meletakkan diri di bawah wibawa Presiden itu.
Pada 1965 terbukti strategi ini gagal. PKI begitu besar tapi kehilangan kemandirian dan militansinya. Ia tak melawan pada saat yang menentukan, tatkala militer dan partai ”borjuasi kecil” yang selama ini jadi sekutunya menghantamnya. PKI terbawa patuh mengikuti jalan Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi, yang mementingkan persatuan nasional.
Terkurung di bawah wacana ”persatuan nasional”, agenda radikal tersisih dan sunyi. Terutama dari sebuah Partai yang mewakili sebuah minoritas—yakni proletariat di sebuah negeri yang tak punya mayoritas kaum buruh. Tan Malaka sendiri mencoba mengelakkan ketersisihan itu dengan tak hendak mengikuti garis Moskow, ketika pada 1922 ia menganjurkan perlunya Partai Komunis menerima kaum ”Pan-Islamis”—yang bagi kaum komunis adalah bagian dari ”borjuasi”—guna mengalahkan imperialisme.
Tapi ia juga akhirnya sendirian. Sang radikal, yang ingin mengubah dunia tanpa jeda tanpa kompromi, bergerak antara tampak dan tidak. Ia muncul menghilang bagaikan titisan dewa. Sejak Agustus 1945, Tan Malaka adalah makhluk legenda.
Sebuah legenda memang memikat. Tapi dalam pembebasan mereka yang terhina dan lapar, sang pahlawan sebaiknya mati. Revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna.
Kapitalisme vs Sosialisme
Kegagalan bangsa ini untuk merdeka sepenuhnya, adalah buah dari kegagalan penyelenggara negara untuk melaksanakan amanat Keadilan Sosial bagi semua rakyat. Keadilan masih terbatas pada beberapa kalangan / kelompok. Yang ada barulah "trickel up effect" bukannya "trickle down effect".
Agaknya kesadaran kesejahteraan bagi rakyat inilah yang mendorong kebangkitan gelombang sosialisme di Amerika Latin, di tengah-tengah suasana neo-kapitalisme, neo-liberalisme di seluruh dunia. Saya belum bisa mengatakan gerakan mereka pasti akan benar, tetapi paling tidak pemimpin negara-negara Amerika Latin mulai berani menyusun langkahnya sendiri. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah rakyat makin sejahtera. Angka akan berbicara dengan sendirinya.
Fenomena Amerika Latin :
Kuba, dimulai oleh Fidel Castro dan dilanjutkan oleh Raul Castro.
Daniel Ortega memimpin Nikaragua.
Rafael Correa memimpin Ekuador.
Bolivia digerakkan oleh EVO MORALES, sang petani sosialis.
Venezuela dipimpin Hugo Chaves.
Fernando Lugo barusan menang di Paraguay, mengalahkan partai yang sudah berkuasa sejak 1947.
Michelle Bachelet, pemimpin partai sosialis, menang di Cile.
Argentina punya Nestor Kirchner, dan dilanjut istrinya Christina Fernandez.
Brasil punya Ignacio 'Lula' da Silva.
Tabare Vazquez ada di Uruguay.
Masing-masing negara memang punya variasinya sendiri-sendiri. Tetapi ada satu arah yang sama, ada satu kekecewaan yang sama terhadap proyek neo-liberalisme yang ternyata lebih menghasilkan ketidakmerataan, kemiskinan, konsentrasi kekuasaan, dan kesenjangan sosial yang makin akut.
So, apa yang kamu inginkan untuk Indonesia ?
Apa kabar para mahasiswa reformis 1998 ?
Sudah 10 tahun anda berdiam, saatnya bergerak dan berperan mengambil porsi untuk perubahan. Tahun 2009, momentum yang paling pas. Now or never !
Aug 14, 2008
Mengapa ada rakyat miskin ?
1. Partisipasi
Rakyat miskin tidak punya akses ke pembuat kebijakan. Mereka yang ngakunya wakil rakyat, lebih sering membela rakyat yang tidak miskin. karena rakyat miskin tidak dapat memberikan apa-apa kepada mereka.
2. Regulasi
Seringkali eksekutif negara ini lebih mementingkan angka-angka makro. Angka-angka yang seringkali tidak menyentuh sisi nyata kehidupan rakyat miskin. Semuanya mendewakan angka pertumbuhan. Pertumbuhan apa ? Sementara si miskin tetap miskin, bahkan makin bertambah kian hari.
3. Good Governance
Sudah bukan rahasia lagi. Akar dari kemiskinan bangsa ini karena nggak ada good governance. Korupsi terjadi dimana-mana, di segala sektor kehidupan. Mulai dari yang paling bawah sampai tingkat paling atas. Mulai yang nggak pake kerah, sampai yang pake kerah putih.
Akankah masalah kemiskinan itu dapat teratasi ?
Selamat datang para calon pembawa perubahan.
Tahun 2009, saatnya Anda memproklamirkan diri sebagai pembawa perubahan,
dan saatnya membuktikan segala omongan Anda.
Saya menunggu Anda ... untuk membuktikannya ...
Aug 9, 2008
PHK lagi, lagi-lagi PHK
Kita masih ingat beberapa waktu yg lalu, karyawan Adam Air kehilangan pekerjaannya.
Ada apa dengan bisnis penerbangan kita ?
Jun 12, 2008
Ekonomi untuk Rakyat
Secara matematis, BLT 100 ribu per bulan memang dapat meningkatkan "pendapatan" dan otomatis BPS nanti akan mencatat adanya pertambahan pendapatan ini, dan nanti dalam laporannya kepada Pemerintah lembaga ini akan mengatakan jumlah orang miskin berkurang.
Padahal untuk mengentaskan orang miskin adalah dengan mengajak mereka untuk meningkatkan pendapatannya dengan memberikan lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Kebijakan ekonomi harus untuk kepentingan rakyat. Rakyat miskin tentu saja. Masih banyak diantara mereka yang mau bekerja untuk mendapatkan 100 ribu ini. Masih banyak jenis pekerjaan fisik yang dapat diberikan kepada mereka yang tidak memiliki ketrampilan.
PR pengentasan kemiskinan masih amat panjang. Dibutuhkan keseriusan negarawan di republik ini untuk sungguh-sungguh memperjuangkan masalah kerakyatan.
Mar 30, 2008
Terbang tanpa delay euy !
Hari Rabu, 26 Maret yg lalu saya ada kerjaan ke Medan. Seperti orang lain, nasib sial juga, kami kena harga tinggi. Dari Palembang ke Medan kena harga tiket Lion Rp 2 juta. gara-gara Adam Air diberangus kali ... tapi yg berkesan di penerbangan ini adalah tepat waktu, nggak kena delay sama sekali. Lion emang top.
Nov 5, 2007
Orang Miskin bukan Sekedar Angka
HARI ini, 17 Oktober 2007, diperingati sebagai Hari Penanggulangan Kemiskinan Sedunia. Dalam dua tahun terakhir, kita selalu disuguhi sengketa statistik tentang turun-naiknya angka kemiskinan.
Dari otoritas negara, seperti lazimnya rezim yang berkuasa, tentu mengklaim telah terjadi penurunan angka kemiskinan. Di sisi lain, di kalangan ekonom non-mainstream, meragukan klaim itu bahkan mengemukakan fakta sebaliknya, jumlah orang miskin Indonesia cenderung meningkat.
Sengketa angka kemiskinan
Meski kedua pihak bersengketa soal angka kemiskinan, namun keduanya meletakkan analisisnya pada ukuran yang sama, yaitu analisis statistik kuantitatif. Perkembangan ilmu ekonomi memang makin eskalatif meninggalkan cabang ilmu sosial lainnya, saat analisis matematik (ekonometri) menjadi tulang punggung ilmu ekonomi. Namun, ilmu ekonomi juga makin meninggalkan "kemanusiaan"-nya saat kebutuhan dasar hidup matinya manusia hanya diwujudkan dalam "angka-angka".
Agak disesalkan ketika Millennium Development Goals (MDGs), yang menjadi komitmen global penanggulangan kemiskinan pada awal abad milenium 2000, lebih banyak menggunakan indikator-indikator kuantitatif dalam elaborasi tujuan dan targetnya.
Ini menjadi salah satu kelemahan MDGs saat menjadi tools advokasi menagih janji dan komitmen negara penanda tangan pakta global ini. Dalam dua kali penyajian progress report MDGs di Indonesia tahun 2004 dan 2005, progress report itu juga penuh angka statistik yang dingin dan kaku, tanpa penjelasan kualitatif yang mampu berbicara.
Dalam situasi seperti itu, para pegiat organisasi nonpemerintah mengembangkan analisis sosial untuk mengidentifikasi pokok soal kemiskinan melalui metode participatory poverty assesment (PPA).
Metode ini hendak mengembalikan "fitrah" analisis kemiskinan yang seharusnya berdasarkan kebutuhan kaum miskin secara riil. Dengan demikian keluaran dari analisis ini adalah narasi-narasi kualitatif yang tak lazim dipakai kaum tekno-ekonom kita yang mendominasi perencanaan kebijakan makro-ekonomi.
Narasi-narasi kualitatif itu bisa menjadi pedoman perumusan kebijakan penanggulangan kemiskinan. Satu-satunya kebijakan penanggulangan kemiskinan yang pernah disusun melalui metode ini adalah Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan yang diadopsi menjadi Bab 16 dari Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009.
Sayang, dokumen itu tak dijadikan road map penanggulangan kemiskinan. Dokumen ini menjadi tak ada artinya saat negara (dalam hal ini konspirasi eksekutif-legislatif) memproduksi legislasi kebijakan makro-ekonomi yang berkiblat pada pasar dan investasi, sesuai dengan petuah lembaga multilateral dan donor multilateral yang menjadi sumber utang pendanaan pembangunan.
Kebijakan tanpa perasaan
Jika kemiskinan hanya diperdebatkan dalam angka, tabel, atau grafik statistik, tak akan ada penghayatan atas kemiskinan yang benar-benar dirasakan rakyat Indonesia.
Dan perdebatan itu pun hanya menghasilkan kebijakan tanpa perasaan karena disusun tanpa penghayatan dan pelibatan langsung pada realitas kemiskinan. Perda Ketertiban Umum yang berlaku di DKI Jakarta merupakan contoh nyata kebijakan yang dibuat tanpa perasaan dan penghayatan.
Hampir selalu ada penyangkalan dari otoritas kekuasaan saat media atau organisasi nonpemerintah melansir realitas kemiskinan (misalnya kematian akibat kelaparan/gizi buruk) yang dialami komunitas miskin di suatu wilayah.
Penyangkalannya bisa berupa penciutan/pengurangan data, dengan menyatakan, jumlah yang mati/lapar/mengalami gizi buruk masih kecil persentasenya.
Bentuk penyangkalan lain adalah pengabaian data itu, bahkan sering berkilah, yang mengalami kematian/gizi buruk/kelaparan bukan orang yang ber-KTP wilayah itu (kaum pendatang).
Berbagai penyangkalan tersebut mengisyaratkan, memang ada pemakluman bahwa orang miskin perlu ada sebagai tumbal bagi mereka yang kaya.
Orang miskin sebagai "kriminal"
Selain hanya ditulis sebagai "angka", orang miskin kerap pula dianggap dan diperlakukan sebagai "kriminal".
Masih dalam suasana Idul Fitri, saat seharusnya semua orang (termasuk pejabat) membuka lebar-lebar mata hatinya, sudah menebar teror dan ancaman untuk orang miskin yang mencoba mengadu nasib di Ibu Kota.
Petinggi Ibu Kota menyatakan akan menangkap dan memulangkan ratusan ribu pendatang baru (mayoritas orang miskin) yang selalu datang ke Jakarta pada masa arus balik Lebaran. Apakah Ibu Kota ini hanya milik orang berpunya?
Jika ancaman itu benar-benar dilakukan dan Pemprov DKI menggerakkan Satpol PP untuk Operasi Yustisi, apa yang dilakukan Pemprov DKI persis yang dilakukan Pemerintah Malaysia menggerakkan Rela "memangsa" orang Indonesia di Malaysia.
Menegaskan komitmen
Soal komitmen penanggulangan kemiskinan, Indonesia tak hanya menjadi bagian dari pakta global MDGs, tetapi juga telah menjadi negara peratifikasi Kovenan PBB untuk Hak-hak Ekonomi Sosial Budaya (melalui UU No 11/2005). Kovenan itu bahkan lebih operasional dan mengikat secara yuridis karena mengamanatkan adanya harmonisasi perundang-undangan di tingkat nasional.
Meski demikian, hingga kini belum terlihat gelagat politik dari pemerintah untuk mengharmoniskan UU bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Masih konservatifnya politik anggaran yang tercermin dalam APBN menjadi bukti pengabaian implementasi ratifikasi kovenan pokok ini.
Hingga kini APBN kita hanya menjadi pelestari birokrasi biaya tinggi, membuka peluang korupsi, tetapi masih terlalu jauh untuk memfasilitasi upaya mencerdaskan dan menyehatkan warga negara, apalagi membebaskannya dari belenggu kemiskinan.***
Wahyu Susilo Bekerja di International NGO Forum on Indonesian Development (INFID); Campaigner Global Call to Action Against Poverty (GCAP).
Artikel ini dimuat di harian Kompas, Rabu, 17 Oktober 2007.
24% orang Sumsel miskin !
sumsel.wordpress.com
Kerap kali kita merasakan kebanggaan karena Sumsel termasuk propinsi dalam lima besar Propinsi Terkaya di Indonesia. Dengan kekayaan yang begitu banyak itu apapun bisa diperbuat oleh Sumsel. Termasuk memberi kesejahteraan kepada rakyatnya. Seharusnya rakyat Sumsel harus jauh lebih makmur dibandingkan 25 propinsi lain yang tidak masuk dalam lima besar.
Kenyataannya pun memang benar demikian. Sumsel maju dan berkembang pesat. Pembangunan terjadi dimana-mana. Kendaraan mewah dan rumah-rumah mewah bukanlah pemandangan baru disini. Dis etiap jalanan dan penjuru kota banyak kita jumpai.
Namun sayang, kesejahteraan dan gelimangan harta masih dirasakan hanya oleh segelintir orang saja. Di Sumsel, yang pertama kali akan merasakan sejahtera adalah mereka orang-orang yang berkuasa. Para pejabat pemerintah dan orang-orang politik.
Sedangkan bagi rakyat bawah yang jumlahnya mayoritas, kesejahteraan masih baru sebatas impian diatas awan.
Hal ini tidak bisa dipungkiri. Secara kasat mata, kita masih sering menyaksikan orang miskin berkeliaran di jalanan. Pengangguran masih banyak berhamburan. Akibatnya aksi kejahatan masih merupakan sesuatu hal yang biasa terjadi sehari-hari saja. Karena itu hanyalah dampak dari adanya kemiskinan dan banyaknya pengangguran.
Hingga saat ini angka pengangguran di Sumatera Selatan (Sumsel) masih cukup tinggi, ini dilihat dari data catatan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa angka pengangguran mencapai 10,44 persen dari angkatan kerja dengan jumlah 352.191 orang pada periode 2006.
Hal ini diakui Gubernur Sumsel Syahrial Oesman ketika paparan pada Musrenbang beberapa waktu lalu.
Gubernur Sumsel mengatakan tingginya angka pengangguran ini harus diakui, namun diharapkan pada 2007 angka pengangguran akan bisa dikurangi dengan banyak lapangan kerja baru yang dibuka oleh para investor yang membuka usahanya di provinsi ini.
Syahrial juga mengatakan per soalan pengangguran merupakan ancaman yang sangat serius karena dampaknya dapat mempengaruhi faktor keberhasilan pembangunan suatu daerah yang ditandai dengan peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Gubernur juga mengungkapkan jumlah penduduk miskin periode 2005 berjumlah 2.144.700 jiwa. Pada tahun 2006 jelasnya, jumlah penduduk miskin mengalami penurunan menjadi 1.655.860 jiwa namun itu masih relatif tinggi yakni 24 persen dari jumlah penduduk.
Ia juga menjelaskan saat ini pertumbuhan ekonomi provinsi ini dalam 2006 sebesar 5,2 persen (dengan Migas) sedangkan tanpa migas sebesar 7,31 persen dan lebih tinggi dari capaian pertumbuhan ekonomi tahun 2005 sebesar 6,92 persen. Tapi untuk 2008 target pertumbuhan yang telah ditetapkan didalam Rencana Program Jangka Menengah (RJPM) sumsel 2005-2008
Tapi ini bukanlah perkerjaan gampang dan untuk mewujudkan keinginan itu harus ada kerja sama yang baik dari semua pihak.
Tapi bukan jga pekerjaan susah, kan? (Taswin)
Nov 4, 2007
Angka Buta Aksara di Sumsel
Ogan Komering Ilir 15.475
Banyuasin 12.378
Musi Rawas 11.050
OKU Timur 9.955
Palembang 8.938
Lahat 8.558
Muara Enim 8.237
Musi Banyuasin 8.119
Ogan Ilir 5.201
OKU Selatan 4.054
Ogan Komering Ulu 2.535
Lubuk Linggau 1.954
Pagar Alam 1.468
Prabumulih 1.026
sumber: sriwijaya post www.indomedia.com/sripo
Laba XL turun 69%
"Penurunan laba bersih ini disebabkan oleh keputusan manajemen untuk membayar 'withholding tax' (WHT/pajak terhadap bunga pembayaran cicilan) atas bunga obligasi dolar AS," kata Presiden Direktur Excelcomindo, Hasnul Suhaimi, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan, "withholding tax" (WHT) atas bunga obligasi dolar AS dengan bunga 20 persen dan dendanya yang harus dibayar sebesar Rp341 miliar untuk periode tahun 2004 hingga September 2007.
"Jika XL tidak membukukan withholding tax tersebut, maka laba bersih XL hingga kwartal ke-3 2007 seharusnya bisa mencapai Rp472 miliar," katanya.
Walaupun laba bersih menurun, pendapatan usaha perseroan sebesar Rp5,4 triliun atau naik 32 persen. meningkat 32 persen dari Rp4,1 triliun pada periode yang sama sebelumnya.
"Tidak bisa dipungkiri, pencapaian ini adalah hasil dari penerapan sejumlah program yang beragam selama sembilan bulan di tahun 2007. Program dimaksud antara lain tarif promo bebas Rp 1/detik untuk panggilan keluar ke semua pelanggan XL di seluruh Indonesia," katanya.
Hasnul menuturkan dari berbagai program tersebut terjadi peningkatan pelanggan XL sebesar 53 persen per 30 September 2007 menjadi 12,8 juta dari 8,4 juta per 30 September tahun lalu.
Hingga 30 September 2007, jumlah BTS (termasuk Node B / BTS 3G) telah mencapai hampir 10 ribu unit, tepatnya 9.947 BTS di seluruh Indonesia . Jumlah ini meningkat 52 persen dari 6.537 unit per 30 September 2006. Hingga kuartal ke-3 tahun 2007 ini, XL telah membelanjakan kapital (capex) sebesar Rp 4,6 triliun untuk membangun sekitar 2.700 unit BTS. (*)
Paradoks Pertumbuhan Ekonomi
"Jika tidak dilakukan berbagai upaya perbaikan di berbagai hal, maka khususnya menyangkut perbaikan kesejahteraan kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia yang masih berada di bawah standar kehidupan yang memadai, fenomena paradoksial itu rentan bagi kestabilan ekonomi makro jangka panjang," katanya di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, sebagai mayoritas, masyarakat kecil dan menengah merupakan kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi dan menjadi pasar bagi berbagai produk, sehingga bila keadaan masyarakat menengah kecil semakin memburuk akan menurunkan permintaan yang mendorong melemahnya pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,5 persen pada tahun 2006 dan diperkirakan 6,2 persen pada 2007 ini, menurut dia, belum menyerap tenaga kerja secara optimal.
Angka pengangguran terbuka, menurut dia, dari data BPS pada 2006 mencapai 10,9 juta jiwa (10,3 persen) dan pada Juli 2007 meningkat tipis menjadi 10,6 juta jiwa (9,8 persen) padahal hingga triwulan tiga pertumbuhan ekonomi diperkirakan telah mencapai 6,2 persen.
Sedangkan, kemiskinan pada bulan Juni 2007 yang mencapai 37,17 juta jiwa atau 17,75 persen populasi, meski menurun dibandingkan kondisi akhir tahun 2006 yang mencapai 39,30 juta jiwa belum optimal.
Dalam kajian BI, menurut dia, paradoks tersebut akibat pertumbuhan ekonomi yang didorong sektor "non-tradable" yang relatif sedikit menyerap tenaga kerja.
"Sementara sektor, industri manufaktur mengalami stagnasi dan sub sektor pertanian pangan yang menjadi ladang kehidupan sebagian besar petani masih terus tertekan," katanya.
Selain itu, ia menambahkan, sumber-sumber pendorong pertumbuhan ekonomi sangat terbatas. Terbatasnya sumber pendorong ekonomi seperti investasi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada konsumsi yang dalam jangka panjang tidak berkelanjutan. (*)
Oct 23, 2007
Sekolah Alternatif Panggugah - Boyolali
SMA Alternatif Plus Panggugah yang memulai tahun belajarnya pada bulan Juli Tahun Ajaran 2006/2007, sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh sekolah reguler, Kebiasaan plonco-ploncoan di sekolah reguler dalam Masa Orientasi Siswa (MOS) tidak dilakukan di SMA APP, Sedangkan yang dilakukan adalah, justru menitik beratkan pada, bagaimana agar potensi diri, kepekaan, kepedulian dan ambisi siswa bisa keluar. Sekolah Alternatif PANGGUGAH ini diprakarsai oleh orang-orang yang peduli dengan dunia pendidikan. Gedung sekolahan ini terletak di Desa Dukuh-Banyudono Kab. Boyolali, Jawa Tengah. Meski menggunakan kurikulum Kejar Paket C tetapi model pembelajarannya disamakan dengan SMA reguler. Pembelajaran formal dari hari Senin sarnpai hari Sabtu dimulai jam 07.00 sampai jam 13.00. Ditambah lagi pelajaran ekstra komputer, menjahit dan Bahasa Inggris. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi bisa juga di luar kelas sesuai dengan kebutuhan antara Guru dan siswa. Pelajaran kewirausahaan, life skill dan potensi hidup juga diberikan sebagai bekal anak untuk hidup mandiri dan survive setelah lulus dari sekolah.
Sekolah Alternatif Plus Panggugah baru memiliki 2 kelas dengan jumlah 11 orang siswa kelas 1 dan 19 siswa kelas 2. Mereka berasal dari berbagai daerah antara lain Purworejo, Purwodadi, Solo dan Boyolali. Bagi siswa yang berasal dari luar kota mereka tinggal di asrama sekolah. Sehingga anak-anak tetap terpantau pembelajarannya setiap hari,
Demikian sekilas tentang sekolah yang didirikan sebagai tanggapan atas rasa keprihatinan terhadap kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini. Diharapkan terobosan yang baru ini dapat memberikan pembelajaran yang lebih baik, sehingga anak-anak jadi lebih mengerti akan potensi dan jati diri yang dimiliki serta memperkuat rasa kepedulian sosialnya.
Kita semua tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan bakat dan potensi yang berbeda-beda. Oleh karena itu setiap siswa sekolah, tidak bisa dipaksakan untuk menguasai semua pelajaran yang ada. Karena setiap siswa mempunyai kemampuan dibidangnya masing-masing, Ada satu siswa yang suka matematika, ada siswa lain yang lebih menguasai dalam pelajaran bahasa, ada lagi yang suka sejarah. Oleh karena itu dengan keunggulan yang dimiliki setiap anak, guru lebih mudah untuk memberikan semangat, motifasi pada siswa dalam menemukan dan memahami bakat maupun jati diri yang dimilikinya.
Untuk menumbuhkan SDM yang kelak menjadi tokoh atau agen perubahan masyarakat yang peka sosial, cerdas ,mandiri dan berkualitas dari berbagai daerah atau pelosok pedesaan sekolah dilengkapi dengan fasilitas asrama. Asrama disediakan bagi anak dari keluarga kurang mampu yang tempat tinggalnya jau dari sekolah. Selama tinggal diasrama anak -anak tersebut mendapat tunjangan bea-siswa / bea-hidup dari mereka yang bersedia menjadi orang tua asuh mereka.
Oct 15, 2007
Mudah memaafkan
Oct 3, 2007
Republik Katrok
lucu - segar - menggairahkan.
daripada sekarang, korupsi kabeh.
huh ..
Sep 3, 2007
Dari Liabilitas Menjadi Asset
1.
Liabilitas saya yang pertama adalah sebuah rumah mungil di Batam, tipe 36 dengan luas tanah 90 dengan harga cash waktu itu Rp 42,7 juta. Dengan modal uang muka 20 juta, sisanya saya ambil dengan mengajukan KPR. Kebetulan 2 tahun kemudian saya bisa punya uang lebih untuk melunasi rumah tersebut. Saya menempati rumah itu selama kurang lebih 6 tahun, dan dari liabilitas rumah itu sekarang menjadi asset. Setiap bulan saya bisa mendapatkan Rp 500,000,- per bulan. Lumayan lebih dari separo UMR di kota tersebut.
2.
Asset kedua saya peroleh secara kebetulan, benar-benar beruntung. Ada lelang rumah yang murah, sebulan kemudian rumah itu saya jual dan untung hampir 70%. Wow, sekali lagi saya beruntung.
3.
Lagi-lagi keberuntungan menghampiri saya, ketika seseorang datang menawarkan rumahnya untuk dijual. Dia BU alias butuh uang. Segera saya putuskan membelinya dengan hanya mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan, saat ini passive income dari rumah ini masih Rp 75,000,- per bulan. Tetapi tahun depan KPRnya lunas, jadi saya bisa mendapatkan passive income Rp 400 ribu per bulan. .
4.
Rumah kecil saya dapatkan lagi dari seorang kawan developer Tipe 45 /90 seharga Rp 58 juta,- padahal harga pasaran waktu itu sudah 65 jutaan. Lumayan - discountnya bisa buat bikin pagar dan dapur. Saat ini rumah ini sudah menghasilkan passive income Rp 500 ribu per bulan.
dst.. saya terus mencari rumah murah. seperti yang dikatakan orang, kita bisa "beli rumah dapat duit" kalau kita mau mencari informasi di sekeliling kita.
Terima kasih Kiyosaki. Thanks God.
Saatnya anda mencoba menambah aset. Jangan takut mencoba.
Jul 5, 2007
Pengemis Politik
Liat aja di Jakarta ... 2 orang bertarung untuk apa ?
Untuk sebuah kemajuan ?
Untuk sebuah keinginan menyejahterakan rakyat ?
Atau untuk mengemis jabatan ?
Hai rakyat, pilihlah aku pengemis politik ...
Pilihlah aku, maka kamu akan kugusur.
Pilihlah aku, maka aku akan dapat proyek ..
huh .. halah ..!
May 6, 2007
Buruh
Mereka hanya menuntut kenaikan upah sesuai dengan kenaikan biaya hidup di wilayah masing-masing.
Begitu banyak alasan pengusaha dan pemerintah untuk menolak kenaikan upah buruh.
Buruh, nasibmu memang masih mengenaskan.
Feb 21, 2007
Kaya tapi miskin
seorang kawan membaca buku-buku tentang bagaimana caranya melipatgandakan uang dalam waktu sekejap, tentang cara cepat menjadi orang kaya, tentang kebebasan finansial, tentang teknik investasi, tentang ini dan tentang itu, dll.
sudah lebih dari 10 buku dilahapnya...
kemudian, kawan itu datang kepada saya,
mas, siapa yang cepetan kaya ya si penulis buku itu atau saya ...?
Feb 15, 2007
Filsafat itu Mengasyikkan
Apakah Filsafat itu? Bagaimana definisinya?
Demikianlah pertanyaan pertama yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat.
Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
1. Segi semantik:
perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang berarti 'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan, hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf". Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2. Segi praktis :
dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti 'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam.
Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain : Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Tertarik untuk berfilsafat .... ??
Feb 2, 2007
www.pintunet.com
saya menemukannya secara tidak sengaja di tahun 2002,
dan sampai sekarang masih menjadi membernya.
website ini berisikan berbagai opini dari member tentang berbagai produk, maupun berbagai masalah yang sedang hangat di indonesia. uniknya kalau kita menulis disana, diberikan honor menulis yang dikemas kedalam point, 1 point dihargai Rp 60,- memang sangat kecil kalau dibandingkan dengan biaya akses yang kita gunakan. Tetapi paling tidak hal ini bisa membuat para pemula termotivasi untuk selalu belajar menulis dan berani menulis tentang apa saja.
Semoga tetap mampu bertahan, di tengah persaingan era internet sekarang ini.
Goblogika
Presiden SBY sambil dadagh-dadagh ke Kampung Melayu mengunjungi korban banjir. Banjir harus diatasi, dan memerintahkan gupernur Sutiyoso untuk segera ambil tindakan.
Banjir perlu segera penanganan. Yang sekarang jangka pendek dulu.
- Kirim bantuan sekarang
- Sediakan sarana perahu karet untuk evakuasi dan tenda darurat atau tempat pengungsian lainnya.
- Sediakan dapur umum.
Langkah jangka menengah :
- pelajari titik-titik baru banjir, analaisa kenapa
- buat peta kota titik rawan banjir, dan buat peta darurat utk para pengungsi.
Jangka Panjang :
- Atasi penggundulan lahan dimana-mana, terutama daerah penyangga di Bogor.
- Bersihkan seluruh Saluran air, baik yang besar maupun yang kecil, sehingga jika hujan datang, air segera mengalir ke laut.
Wuih... sudah berkali-kali banjir kok nggak ada perubahan. Gemes aku !
Atau kita memang sudah pasrah dan menerima logika ini :
- Kan sudah biasa terjadi banjir. Tahun lalu juga banjir. Nanti kan airnya surut sendiri. Dan kehidupan akan normal kembali.
Huh ! sebuah Goblogika !
Jan 30, 2007
Takut
Jadi bagi Anda yang baru saja mempunyai blog. Tuliskan saja apa yang terpikir di hati Anda.
Jangan takut untuk belajar dan belajar. Karena setiap orang mempunyai prosesnya masing-masing. Ada yang cepat, dan ada pula yang lambat. Mungkin saya termasuk yang kedua. Lambat dalam segala hal. Tetapi mulai tahun 2007 ini hal itu tidak boleh menjadi hambatan untuk belajar. Biar lambat asal selamaat ( halah ! ), kayak di jalan aja.
Maju terus pantang mundur.
Jan 22, 2007
Bencana Indonesia
bukan salah siapa-siapa
dan bukan hukuman dari siapapun
bencana adalah sekedar bencana.
SPIRIT
Bagaimana membangkitkan kembali SPIRIT itu ?
Caranya adalah dengan segera menjawab segala permasalahan yang sedang menimpa kita dengan cara sesuai dengan diri kita masing-masing. Jika kita memiliki sahabat, hendaknya kita bercerita tentang masalah itu. Paling tidak, kalaupun masalah itu tidak dapat dipecahkan saat ini, hati terasa plong. Ada segumpal batu yang lepas di dalam darah kita, yang membeku.
Dengan begitu spirit tetap ada, semangat bekerja - semangat beraktivitas kembali ada, dan produktivitas diri menjadi meningkat. Hidup menjadi bermakna.
Jan 7, 2007
Dec 6, 2006
Nov 25, 2006
Nov 13, 2006
Mimpi
Tapi saya bukan mau bicara soal mimpi ketika kita tidur, tetapi mimpi soal harapan ke depan.
Dalam perjalananan kehidupan ini, seringkali saya takut untuk bermimpi. Karena mimpi bukanlah kenyataan.
Mimpi bukanlah sesauatu yang mudah untuk diwujudkan.
Nov 12, 2006
Belajar Dari Google
Saya sungguh merasakan manfaat yang sangat besar atas kehadiran search engine google ini. Apabila saya sedang surfing tinggal search kata yang mau saya cari dan google yang menunjukkan website-nya. Demikian pula kalau mau mencari gambar untuk presentasi, tinggal cari dari google. Dan akan muncul berbagai pilihan gambar yang menarik. Kelebihan Google yang sangat menonjol dibandingkan search engine lainnya adalah soal kecepatan. Hanya dalam hitungan sepersekian detik sudah muncul ribuan bahkan kadang jutaan website hasil temuan google. Luar Biasa !
Google juga tersedia dalam Bahasa Indonesia, sehingga memudahkan kita yang kurang bisa berbahasa inggris dalam menjelajah internet.
Yang perlu ditingkatkan oleh google adalah keakuratan websitenya. Semoga dapat dikembangkan link yang sudah mati tidak perlu ditampilkan lagi. Tidak seperti sekarang dimana semuanya ditampilkan
Nov 5, 2006
Senandung Setapak Terjal
Senandung Setapak Terjal
Tanah di mana aku tinggal sedang dilanda kekeringan.
Negeri tempat aku dilahirkan sedang dilanda
kemiskinan. Ketidakpuasan, kekecewaan, dan ratap
kesedihan menjadi makanan sehari-hari untuk sebagian
besar orang. Bagi mereka yang kaya, dalam lubuk hati
terjujur, hidup hanya untuk mengejar harta; orang
miskin pun juga, walaupun dengan cara yang berbeda.
Sungai di sini mulai mengering, hujan tak kunjung
datang melelerkan duka. Harapan berubah menjadi
kecemasan, cemas menjadi keputusasaan, dan putus asa
itulah yang selalu mewarnai kehidupan.
Tempat berpijak yang dulu hijau sekarang retak,
berubah warna menjadi coklat. Tanaman pun enggan
bertumbuh, panas udara menyiksa hati, makin
memiskinkan nurani.
Sekitar 3 tahun yang lalu aku pernah ke Desa Danan,
Kabupaten Wonogiri. Suasana tak ubahnya seperti tempat
tinggalku sekarang ini; panas gersang berhias retakan
tanah ladang.
Saat itu waktu belum berhenti di tengah hari, jam
masih kurang dari 12 siang. Dalam perjalanan banyak
kutemui siswa SD berjalan kaki. Tentu pulang dari
sekolahnya. Anak-anak itu berjalan melintas setapak
terjal berdebu penuh batu. Namun tak ada raut putus
asa di wajah mereka. Bersama teman sebaya, berjalan,
tertawa bersama. Lebih kurang 4 kilometer jauhnya
rumah mereka berada.
Anak-anak ini tinggal dalam sebuah lingkungan yang
bagi banyak orang akan meniadakan harapan: tanah
gersang, panas, penuh retakan. Hampir semua dari
mereka hanya mempunyai orang tua dengan kehidupan
pas-pasan. Tak ada mobil ber AC, kulkas, ataupun
mainan mahal.
Namun cita-cita mereka begitu tinggi, walau yakin
hanya sedikit yang mengerti bahwa ada kemustahilan
besar menghadang. Tapi yang jelas anak-anak ini
menikmati.
Kepolosan seolah mengalahkan kekhawatiran akan hari
depan. Yang penting hidup hari ini dijalani. Biarlah
esok menjadi milik esok dan lusa menjadi milik lusa.
Ada begitu banyak alasan yang bisa dilogika. Terutama
karena mereka sangat jarang bersinggungan dengan hidup
mewah, sehingga tak ada keputusasaan bila harapan itu
tak tercapai; harapan menjadi kaya.
Kehidupan mereka dan kawan-kawannya - boleh
dibilang hampir sama. Keadaan seperti itu menjadi
santapan sehari-hari. Dan disanalah terbentuk
kerendahan hati untuk menikmati hidup yang telah
diberi.
* * *
Saat ini banyak pribadi-pribadi berjuang, berjuang
untuk menjadi orang lain. Aku ingin kaya raya seperti
dia, aku ingin pintar seperti mereka. Itu memang baik!
Tetapi kadang, apabila hal-hal tersebut tidak
tercapai, manusia hanya akan memenuhi hidup dengan
rasa kecewa, juga perasaan tidak puas dengan apa yang
telah didapatnya. Kadang pula bersyukur hanya menjadi
sebuah keharusan, bukan penghayatan iman yang mendalam
dan terdalam.
Biasa tertulis kalimat : janganlah lupa untuk
bersyukur . Tetapi jarang kita temui kata-kata :
janganlah kita lupa untuk meminta. Mengapa? Karena
kecenderungan manusia adalah hanya untuk meminta.
Meminta ingin menjadi seperti apa yang dilihatnya.
Memohon untuk dapat menikmati sebuah keadaan yang
nyaman secara duniawi. Saat bersyukurpun, mari
bertanya pada lubuk hati yang terjujur : apakah
tujuanku bersyukur? Semoga saja bukan hanya menjadi
jalan yang harus ditempuh sebelum meminta sesuatu
dalam doa.
Hidup anak-anak di tanah retak itu perlu direnungkan.
Apakah kita masih bisa menikmati hidup dan tertawa
riang di dalam keadaan sekarang? Keadaan dunia yang
dianggap sungguh gersang, jauh dari harapan. Janganlah
kita hanya tersenyum saat tangan ini mampu menangkap
mimpi dan kemudian bersungut-sungut saat terhempas
dalam kesengsaraan.
Perjalanan usia terasa begitu dangkal, tidak
mengenakkan orang lain jika hal ini dibiasakan. Apapun
keadaan kita, Tuhan tetap begitu indah dengan
keagunganNya.. Hidup ini limpahan rahmat. Kemiskinan
serta ketiadaan hanyalah buah-buah pikiran manusia
untuk membahasakan kecewa.
Kalau kita merasa miskin oleh rahmat, mengapa kita
masih diberi hidup olehNya?
Semoga syukur itu selalu ada,
Bersyukur atas apapun keadaan kita.
*Johanes Kunto Suharimurti
Aug 27, 2006
May 28, 2006
Aku bukan siapa-siapa

Aku lahir 9 Agustus 1971 di Semarang, ibukota Provinsi di Jawa Tengah.
Aku bermain dan mengenal teman untuk pertama kali di TK PL Bernardus Semarang pada tahun 1977-1978.
Belajar membaca dan menulis, serta belajar pengetahuan dasar di SD Bernardus 1978 - 1984.
SMP PL Domenico Savio (1984-1987) adalah sekolah lanjutan pertama yang mengenalkanku pada olahraga Basket, waktu itu tubuhku semakin tinggi berkat olahraga ini. Sesuai kebiasaan orang Jawa sunat kulakukan di usia remaja ini. Malu juga sebenarnya udah gedhe lho, pas kenaikan kelas 2 SMP.
Sebelum lulus sekolah, aku sudah mendaftar ke sebuah SMA di Mertoyudan Magelang, Seminari. Ya, itu adalah sekolah menengah untuk calon pastor. Entah seperti ada sesuatu yang memanggilku waktu itu. Sebelum lulus SMP, aku sudah punya sekolah SMA. Akhirnya aku masuk sekolah itu hanya 2 tahun dari 1987 sampai 1989. Ternyata kembali ada bisikan supaya aku kembali ke sekolah biasa.
SMA Kolese Loyola Semarang, 1989 - 1991 adalah SMA keduaku. Sekolah didikan para pastor Jesuit yang terkenal dengan metode pendidikannya yang disiplin namun kreatif. Disanalah aku belajar berorganisasi dengan menjadi Ketua Dewan Keluarga Kolese Loyola, atau di sekolah lain disebut OSIS - Organisasi Siswa Intra Sekolah.
Ajakan seorang kawan untuk mendaftar ke sebuah sekolah gratis karena ada program ikatan dinas kuikuti. Akhirnya STT Telkom menjadikanku sebagai mahasiswa biru-putih. Tahun 1991 - 1997 pergolakan identitas diri melandaku. Seperti sudah menjadi jalannya, jabatan Ketua KMK ( Keluarga Mahasiswa Katolik ) kujalani.
Tahun 1997, karena aku sudah tidak sanggup kuliah lagi, tugas akhir belum selesai, aku ditarik ke PT Telkom; dan bekerja sampai hari ini.
Aku bukan siapa-siapa.
Links
Sopo sih aku ?
- Christianus Widya Utomo
- Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
- Hope for the best, prepare for the worst.
Labels
- ASG (1)
- buta aksara (1)
- ekonomi (1)
- fidei depositum (1)
- filsafat (2)
- kapitalisme (1)
- katekismus (1)
- katolik (2)
- kemiskinan (2)
- memilih (1)
- merpati (1)
- miskin (2)
- myself (2)
- pendidikan alternatif (1)
- phk (1)
- resiko (1)
- revolusi (1)
- risk (1)
- sosialisme (2)
- sumsel (2)
- teologi (2)
- teologi sosial (1)
- XL (1)
- yohanes paulus ii (1)



